Pipa Gas Industri. Foto : ESDM.
Pipa Gas Industri. Foto : ESDM.

Harga Gas Industri Dipatok, Setoran Negara Hilang Rp87,4 Triliun

Ekonomi gas
Suci Sedya Utami • 06 Agustus 2020 21:31
Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan penerimaan negara akan berkurang Rp87,4 triliun karena implementasi dari kebijakan penurunan harga gas untuk sektor industri dan kelistrikan yang dipatok sebesar USD6 per million british thermal unit (MMBTU).
 
Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief Handoko mengatakan penerimaan negara berkurang lantaran penurunan harga gas tersebut harus menjamin jatah atau bagian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hulu migas tidak berkurang. Alhasil untuk menjamin hal tersebut maka porsi atau bagian pemerintah dari kegiatan hulu migas yang kemudian dikurangi.
 
"Jadi penerimaan negara akan turun Rp 87,4 triliun. Ini selama lima tahun ya dari 2020 hingga 2024, bukan dalam setahun," kata kata Arief dalam diskusi daring bertema keekonomian harga gas, Kamis, 6 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski berkurang, penurunan harga gas menjadi USD6 per MMBTU ini diperkirakan menghemat belanja negara sebesar Rp97,8 triliun dalam lima tahun. Penghematan tersebut berasal dari alokasi belanja konversi pembangkit diesel ke gas. Penggunaan gas akan menghemat subsidi solar atau diesel sebesar Rp13,1 triliun. Selain itu juga menghemat alokasi kompensasi listrik sebesar Rp54,7 triliun.
 
Kemudian penurunan alokasi subsidi untuk PT Pupuk Indonesia dan PT PLN yang menjadi penerima manfaat penurunan harga gas sebesar Rp24,2 triliun. Serta dari pajak dan dividen industri dan PT Pupuk sebesar Rp5,8 triliun.
 
Arief mengatakan apabila diakumulasi antara penurunan penerimaan negara dan penghematan, sebenarnya pemerintah masih mendapatkan keuntungan atau surplus sebesar Rp10,4 triliun untuk waktu lima tahun ke depan.
 
Selain itu, keuntungan lain yang didapat dari kebijakan harga gas ini yaitu akan menciptakan multiplier efek yang lebih besar bagi industri. Sebab penurunan harga gas ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Apabila industri tersebut bisa mendorong kegiatan usahanya maka dampaknya akan positif bagi setoran pajak dan deviden pada negara.
 
"Pajak dan dividen dari industri dan pupuk Rp 5,8 triliun. Nanti kita cek apakah benar dari Pupuk Indonesia dari dividen sekian? Lalu penurunan subsidi dari Pupuk Indonesia dan PLN," kata dia.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif