Pemilik Kalla Group yang menaungi PT Poso Energy Jusuf Kalla. FOTO: MI/PANCA SYURKANI
Pemilik Kalla Group yang menaungi PT Poso Energy Jusuf Kalla. FOTO: MI/PANCA SYURKANI

EBT Harus Jadi Penyangga Energi Nasional

Ekonomi Energi Terbarukan
Antara • 01 Oktober 2021 10:30
Jakarta: Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Sugeng Suparwoto mengatakan Energi Baru Terbarukan (EBT) harus menjadi penyangga energi nasional. Upaya itu disebut harus dilakukan dengan mengurangi zat karbon, seperti yang dioperasikan pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil layaknya batu bara.
 
"Kita sadar bahwa energi menyumbang karbon, maka kita akan menekan karbon sedemikian rupa," ujar Sugeng dalam pertemuan Komisi VII DPR dengan Direksi PT Poso Energy, dilansir dari Antara, Jumat, 1 Oktober 2021.
 
Indonesia telah terikat dalam Paris Agreement (Persetujuan Paris) pada 2016 terkait kesepakatan untuk mereduksi emisi karbon dioksida (CO2) yang efektif berjalan per 2020 lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah juga telah meratifikasi persetujuan tersebut dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 mengenai komitmen untuk mengurangi CO2 sebesar 29 persen pada 2030 Karena itu, ujar Sugeng lagi, EBT akan dikedepankan sebagaimana Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun oleh PT Poso Energy.
 
“Kita ingin mendengar best practice, pengalaman membangun (PLTA Poso) agar bisa menjadi pengalaman (bagi) kita semua,” ujarnya.
 
Pemilik Kalla Group yang menaungi PT Poso Energy Jusuf Kalla menerangkan bahwa di samping urusan bisnis, salah satu tujuan menghadirkan PLTU di Poso adalah memberikan pekerjaan kepada masyarakat setempat untuk menghindari perpecahan dan peningkatan inovasi.
 
"PLTU di Poso dibangun karena Poso merupakan daerah konflik. Kalau masyarakat tak bekerja, kalau rakyat miskin, konfliknya akan kembali lagi," tukasnya.
 
Selain itu, dia menyampaikan tentang pentingnya sumber daya listrik yang dibutuhkan Indonesia, karena setiap tahun akan bertambah penggunaannya dengan didukung beberapa faktor.
 
Antara lain peningkatan jumlah penduduk sebesar 1,5 persen yang berkonsekuensi terhadap bertambahnya jumlah rumah tangga. Sehingga, barang-barang semacam kulkas dan televisi yang memerlukan listrik semakin banyak digunakan.
 
Kemudian, lifestyle akan meningkat satu persen, seperti penggunaan handphone yang membutuhkan listrik. Terakhir, mobil listrik sebesar satu persen. "Saya kira 2-3 tahun lagi, mobil listrik sudah mulai dibikin di Indonesia," pungkas mantan Wakil Presiden RI.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif