Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, saat mengikuti webinar. (Foto: Dok. Kementan)
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, saat mengikuti webinar. (Foto: Dok. Kementan)

2 Strategi BPPSDMP Hadapi Pandemi Covid-19

Ekonomi berita kementan
Gervin Nathaniel Purba • 30 Mei 2020 00:27
Jakarta: Sektor pertanian juga turut terkena dampak wabah virus korona (covid-19). Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi jangka pendek dan jangka menengah dalam menghadapi pandemi covid-19.
 
Strategi jangka pendek yang disiapkan BPPSDMP Kementan adalah program padat karya, jaring pengaman sosial (social safety net), dan pemenuhan kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia.
 
"Sementara strategi jangka menengah, selain pemenuhan kebutuhan pangan bagi 267 juta penduduk, juga peningkatan kesejahteraan petani dan peningkatan ekspor", ujar Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, saat mengikuti webinar dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), dikutip keterangan tertulis, Kamis, 29 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelaksanaan webinar internasional itu merupakan hasil kerja sama antara BPPSDMP Kementan dengan ACIAR dan Polbangtan. Tema yang dipilih The Current Condition of Agriculture in Australia, Asia and the Pacific during the Covid-19 Pandemic and Its Strategies to Secure Food Supply.
 
Pada kesempatan itu, Peter Horne dari ACIAR menyampaikan hasil asesment terkait ketahanan sistem pangan dalam kontek covid-19. Dari asesment tersebut, diperoleh hasil bahwa covid-19 telah mengekspose kekuatan dan kelemahan dari sistem pangan global baik sebelum dan sesudah covid-19.
 
Asesment dilakukan dalam tiga langkah. Langkah pertama adalah rapid assessment yang diselesaikan pada 20 Mei 2020. Kemudian langkah kedua adalah assesment terintegrasi dengan negara lain (berbagi pengalaman).
 
Langkah ketiga, dengan assesment mendalam terkait hal-hal yang rawan terkena dampak covid-19. Pada langkah pertama tersebut telah teridentifikasi setidaknya 10 area signifikan yang terdampak covid-19.
 
Beberapa di antaranya adalah perpindahan orang skala besar, seperti mudik dari kota ke desa dan pembatasan bepergian bagi orang. Semuanya itu memberikan ancaman bagi sistem pangan yang sudah ada.
 
"Hasil assessment tersebut memberikan gambaran bagaimana sebaiknya pendekatan kebijakan yang dapat dilakukan oleh setiap negara dalam menghadapi covid-19," kata Horne.
 
Dari kebijakan yang diterapkan, Australia masih dapat melakukan ekspor pangan dan menyediakan stok pangan berkecukupan untuk masyarakatnya.
 
Dalam kesempatan tersebut, Polbangtan Bogor, Yogyakarta-Magelang, dan Malang berkesempatan membagikan pengalaman mengenai langkah-langkah yang telah diambil dari akademisi vokasi selama pandemi berlangsung.
 
Misalnya, penerapan Learning From Home (LFH), upaya diversifikasi pangan untuk menjaga ketahanan tubuh menghadapi pandemi covid-19, pendampingan mahasiswa di wilayah sekitar tempat tinggal mereka untuk membantu petani meningkatkan produksi, dan produktivitas pertanian.
 
Kemudian melakukan kerja sama dengan instansi terkait dalam mengembangkan aktivitas pertanian. Khususnya bagi pemuda tani, kelompok wanita tani, dan petani tradisional dalam mengembangkan usahanya.
 
Webinar ini kurang lebih dihadiri oleh 300 peserta video conference dan disaksikan lebih dari 2.400 pemirsa melalui siaran langsung/live streaming dari media sosial.
 
Melalui webinar ini, diharapkan dapat terinformasikan strategi yang akan diambil setelah mengetahui pembelajaran dari Australia, Indonesia, dan negara lainnya, sehingga upaya penanganan dampak covid-19 akan semakin optimal.
 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif