Ilustrasi UMKM - - Foto: Medcom/ Eko Nordiansyah
Ilustrasi UMKM - - Foto: Medcom/ Eko Nordiansyah

New Normal Bisa Jadi Tantangan Bagi UMKM

Ekonomi umkm New Normal
Eko Nordiansyah • 19 Mei 2020 14:23
Jakarta: Kondisi new normal usai pandemi covid-19 akan menjadi tantangan baru bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pasalnya, kondisi tersebut membuat pelaku UMKM gagap ketika menghadapi perubahan atau beradaptasi dengan kondisi baru.
 
Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan pemerintah mesti membantu UMKM dengan kondisi normal baru. Misalnya, memberikan pelatihan teknik produksi, marketing dan akuntasi dengan menggunakan perangkat digital.
 
"Pelatihan teknik produksi, marketing dan akuntasi dengan menggunakan perangkat digital harus sudah dikenalkan kepada mereka (UMKM), karena perilaku konsumen berubah dengan adanya situasi normal yang baru (new normal)," katanya dalam diskusi 'Peran dan Tantangan Perbankan Dalam Mendukung UMKM Tetap Berdaya Tahan di Tengah Pandemi Covid-19' di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, pelaku UMKM masih memiliki peluang untuk bertahan di tahun ini. Hal ini seiring banyaknya keringanan dan kelonggaran kepada pelaku UMKM, terutama yang terdampak covid-19.
 
"Bantuan likuiditas, keringanan pajak, penundaan pembayaran kewajiban kepada bank sesuai dengan POJK 11/2020 pasti bisa meringankan beban keuangan mereka," imbuh dia.
 
Total kredit perbankan terdampak covid-19 yang telah direstrukturisasi hingga Minggu 10 Mei, mencapai Rp336,97 triliun. Jumlah kredit tersebut berasal dari 3,88 juta debitur yang sebagian besar merupakan kredit UMKM, yakni sebesar Rp167,1 triliun dari 3,42 juta debitur.
 
Untuk mendukung UMKM tetap bisa bertahan, pemerintah memberikan subsidi bunga senilai Rp34,15 triliun untuk mendukung UMKM melalui program stimulus kredit UMKM. Subsidi tersebut akan diberikan kepada 60,66 juta rekening pelaku UMKM dalam program pemulihan ekonomi nasional tahun ini dari pandemi covid-19.
 
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp27,26 triliun untuk subsidi bunga di perbankan, BPR, dan perusahaan pembiayaan. Debitur UMK akan memperoleh penundaan angsuran dan subsidi bunga sebesar enam persen selama tiga bulan pertama, dan tiga selama tiga bulan berikutnya. Sedangkan, untuk usaha menegah akan diberikan sebesar tiga selama tiga bulan pertama, serta dua persen selama tiga bulan berikutnya.
 
Pemerintah menempatkan dana Rp6,4 triliun untuk UMKM yang mengajukan kredit melalui KUR, UMi, Mekaar, dan Pegadaian. Mereka akan mendapat penundaan angsuran pokok selama enam bulan. UMKM yang mengajukan kredit melalui koperasi, LPDB, LPMUKP juga mendapatkan relaksasi subsidi enam persen selama enam bulan dengan anggaran subsidi Rp490 miliar.
 
Sementara itu, Chairman Infobank Institute, Eko B. Supriyanto menyebut, UMKM membutuhkan modal kerja untuk keberlangsungan usahanya ke depan. Apalagi kondisi saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi di 1998 dan 2008, di mana saat itu UMKM masih mampu menjadi tulang punggung.
 
"Sekarang sektor UMKM yang paling terkena. Dari sisi keuangan, saat ini UMKM terkena problem cash atau kehabisan uang tunai untuk menutup kebutuhan pribadi. Juga, soal kredit macet. Untuk kredit, pemerintah sudah memberi relaksasi untuk penyelesaain kredit macetnya. Ke depan, yang perlu diperhatikan apakah UMKM masih punya modal kerja atau tidak? Semoga covid-19 segera berlalu dan UMKM tidak kehabisan uang tunai untuk modal," pungkasnya.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif