Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Foto: dok MI/Pius Erlangga.

MRT Buktikan Angkutan Umum bukan Penyebar Korona

Ekonomi Proyek MRT Virus Korona
Syah Sabur • 04 Juli 2020 19:55
Jakarta: Beberapa hari lalu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut dua area yang menjadi perhatian terkait penyebaran virus korona (covid-19). Kedua area tersebut adalah pasar dan angkutan umum, khususnya kereta rel listrik (KRL). Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta bakal bekerja keras menekan penyebaran virus korona di pasar dan angkutan umum.
 
Sebagai sarana angkutan umum, tentu saja Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta pun harus mewaspadai potensi penyebaran korona, khususnya di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi. Apalagi, data menunjukkan, jumlah penumpang MRT terus meningkat selama masa PSBB transisi. Sebanyak 21.478 penumpang menggunakan MRT pada Rabu, 1 Juli 2020.
 
"Awal Juni kemarin mulai ada peningkatan setelah Jakarta masuk PSBB transisi, angka terus naik," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, dalam Forum Jurnalis Juli.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


William menuturkan peningkatan signifikan terjadi pada 5-6 Juni 2020. Tercatat, 2.702 penumpang pada 4 Juni melonjak menjadi 6.620 penumpang pada 5 Juni 2020. Kemudian angkanya naik hingga 50 persen atau 12 ribu penumpang pada 6 Juni 2020. Jumlah penumpang MRT terus meningkat mencapai 20 ribu penumpang pada 30 Juni 2020.

Tidak Mau Gegabah

Di satu sisi, angka tersebut harus disyukuri karena menunjukkan aktivitas masyarakat mulai bangkit. Namun pihak MRT tidak mau gegabah menghadapinya. Untuk itu pihak MRT menerapkan sejumlah prosedur kerja untuk mengurangi penyebaran virus korona di area stasiun. Caranya, menurut William, pihaknya menerapkan sejumlah langkah inovasi.
 
Sebagai contoh, saat menggunakan lift, calon penumpang tidak perlu menekan tombol lift, karena ada kontak di kaki. "Jadi, calon penumpang tidak perlu memakai tangan, tapi cukup tekan pakai kaki untuk membuka, baik saat naik maupun turun," ucap William Sabandar.
 
Tak cukup di situ, MRT juga mengatur cara berdiri penumpang di dalam gerbong kereta. Penumpang yang tak mendapat tempat duduk harus berdiri menghadap arah laju kereta. "Nantinya, penumpang terlihat seperti berbaris namun tetap berjarak satu hingga dua meter antarpenumpang. Jumlah penumpang pun dibatasi 62-67 orang dalam satu gerbong kereta," katanya.
 
Selain itu, ada pula pemeriksaan suhu tubuh. Mereka memakai thermal scanner supaya kalau terjadi antrean, penumpang bergerak dengan flow yang cepat.
 
Ada juga protokol kesehatan lainnya yang ditetapkan pemerintah seperti penumpang wajib menggunakan masker, rajin mencuci tangan, serta menjaga jarak satu meter antarpenumpang. Dengan alasan itulah, Dirut MRT berani menjamin transportasi umum yang dikelolanya aman dari penyebaran virus korona (covid-19). Sebab, semua protokol kesehatan dijalankan dengan ketat.
 
"Transportasi umum jadi sumber infeksi covid-19 itu sebenarnya tidak terbukti," katanya sambil mengutip hasil kajian mitigasi infeksi oleh SBM ITB (Sekolah Bisnis Manajemen Intitut Teknologi Bandung).
 
William memaparkan warga negara Hong Kong dengan jumlah penduduk 7,5 juta orang amat bergantung pada pengunaan transportasi umum. Namun terbukti, kasus covid-19 di Hong Kong hanya sekitar 1.100.

Kasus di Kansas

Menurut William, angka itu 1 per 10 dari jumlah di Kansas, Amerika Serikat, yang penduduknya kurang dari setengah Hong Kong. "Padahal warga Kansas itu tergantung pada kendaraan pribadi roda dua, bukan angkutan umum," tuturnya.
 
Dia juga mencontohkan kasus covid-19 di kota Manhattan, New York, Amerika Serikat. Yang menarik, tingkat inveksi covid-19 di kota tersebut rendah walaupun mereka bergantung pada transportasi umum.
 
William menuturkan hal ini jauh berbeda dengan tingkat infeksi covid-19 di Pulau Staten Island, New York. Tingkat infeksi di wilayah itu tinggi walaupun mayoritas warganya pengguna kendaraan pribadi roda empat.
 
Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa stigma transportasi publik sebagai tempat penyebaran covid 19, tidak benar. William juga menyinggung Jepang yang mayoritas masyarakatnya menggunakan transportasi umum. Namun data menunjukkan, kurang dari satu persen warga Jepang terinfeksi covid-19. Alasannya, warga Jepang disiplin menerapkan protokol kesehatan.
 
"Jadi, kalau kita melakukan protokol kesehatan dengan konsisten di mana pun kita berada, itu bisa dipastikan tidak terjadi keterpaparan korona," jelas William.
 
Karena itu, William berharap perpanjangan masa transisi selama dua minggu ke depan akan membuat jumlah penumpang terus naik. Dia tidak terlalu khawatir soal korona karena MRT dapat mengakomodasi 70 ribu penumpang dengan tetap menerapkan jaga jarak fisik (physical distancing). Untuk itu, MRT akan menambah waktu perjalanan pada jam sibuk (peak hour) bila terjadi lonjakan melebihi 70 ribu penumpang.
 
"Sekarang hanya dua jam di pagi pukul 07.00-09.00 WIB dan sore pukul 17.00-19.00 WIB. Kalau nanti jumlah penumpang di atas 70 ribu, kita buat tiga jam di pagi dan sore," jelas William.
 
William mengungkapkan, pihaknya tak akan bosan untuk mengimbau pengguna MRT disiplin menerapkan protokol kesehatan di area stasiun. Tak ada cara lain, mereka harus mengikuti marka, menerapkan physical distancing, melakukan pengecekan suhu tubuh, menggunakan masker, serta menjaga jarak satu meter antarpenumpung. "Hal ini untuk memastikan bahwa angkutan umum bukan pusat penyebaran covid-19," jelasnya.
 

(AHL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif