Kopi. Foto : Medcom.id.
Kopi. Foto : Medcom.id.

Petani Kopi Robusta Lampung Bertahan saat Pandemi Covid-19

Ekonomi petani covid-19
Antara • 29 Juli 2020 12:03
Bandarlampung: Para petani kopi robusta di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung mengeluhkan harga kopi saat ini cenderung turun, lebih rendah dari harga rata-rata kopi biasanya yang dapat mereka nikmati.
 
Penurunan harga kopi itu semakin dirasakan dampaknya, mengingat pandemi covid-19 belum lagi usai, sehingga makin menggerus pendapatan para petani yang berharap hasil panennya tetap berlimpah saat bencana penyakit virus mematikan menerpa saat ini. Umumnya, petani kopi robusta maupun sebagian kecil pembudidaya kopi arabika di Lampung saat ini sedang memasuki panen raya.
 
"Benar pak, saat ini kami sedang panen raya kopi, meskipun harganya cenderung turun, tapi kami masih berharap hasil panen tetap tinggi," ujar Syarif Hidayat, pekebun kopi yang juga pengurus Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Mitra Jaya Rindingan di Kecamatan Ulubelu, Tanggamus dikutip dari Antara, Rabu, 29 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Harapan panen kopi dengan produksi tinggi disampaikan pula Rendy Hararuddin, Ketua Gapoktanhut Lestari Sejahtera di Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Rata-rata pekebun kopi itu membudidayakan lahan produktif untuk ditanami kopi robusta antara satu hingga 2,5 ha.
 
Harga kopi saat ini berkisar Rp17 ribu hingga Rp18.500 per kilogram (kg). Harga ini cenderung turun.
 
"Sekarang, harga kopi robusta asalan sekitar Rp18.500 per kg. Padahal, kopi yang kami produksi menjaga kualitas dengan cara memilih buah kopi merah (petik merah). Alangkah bahagianya petani kalau harga juga dapat sesuai dengan kualitasnya,” ujar Sri Wahyuni, pengelola usaha kopi bubuk di Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus.
 
Lampung salah satu provinsi penghasil kopi robusta utama di Indonesia. Kopi merupakan salah satu komoditas andalan dari Lampung untuk diekspor. Rata-rata Lampung mampu berkontribusi 24,19 persen dari produktivitas kopi nasional.
 
Produksi petani kopi Lampung khususnya kopi robusta mencapai angka 90 ribu-100 ribu ton per tahun.
 
Produktivitas petani kopi umumnya di Lampung berkisar satu hingga empat ton per hektare (ha). Pemprov Lampung menargetkan ke depan produksi kopi petani di daerah ini naik dari rata-rata 0,78 ton per ha menjadi rata-rata empat ton per ha.Pandemi covid-19 dirasakan dampaknya bagi para petani kopi di Lampung, termasuk di Tanggamus.
 
Drastis
 
Sri Wahyuni, pengelola usaha kopi bubuk di Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Tanggamus mengakui penjualan menurun drastis sejak merebak pandemi ini. Biasanya, bisa menjual sekitar satu kuintal kopi bubuk. Kini anjlok hanya sekitar 50 kg.
 
"Untuk tetap bertahan di tengah kondisi pandemi tersebut, petani kopi di Ulubelu menerapkan metode tumpang sari sembari menunggu panen kopi. Biasanya, kami menanam cabai dan pisang di sela-sela tanaman kopi sebagai penghasilan mingguan bagi petani," tambah dia.
 
Sri Wahyuni yang juga Ketua Koperasi Produsen Srikandi Maju Bersama itu membenarkan harga dan penjualan kopi masih menjadi masalah utama bagi petani kopi lokal di Ulubelu, terlebih pada masa pandemi.
 
Biasanya, ada pembeli dari luar daerah yang mengambil hasil panen kopi. Namun, di tengah pandemi seperti ini, orang dari luar daerah tidak ada yang datang, sehingga penjualan merosot tajam.
 
Dia berharap, pihak terkait, termasuk pemerintah, dapat membantu dalam pemasaran dan pengendalian harga kopi di Lampung, sehingga penjualan meningkat dan petani bisa merasakan manfaat dari geliat industri kopi.
 
"Sejauh ini, bantuan untuk nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Padahal, tidak semua petani menjadi nasabah KUR," kata dia.
 
Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (Scopi) Paramita Mentari Kesuma menyatakan penurunan penjualan kopi karena proses ekspor dan impor mengalami kendala, akibat pemberlakuan lockdown dampak pandemi covid-19.
 
"Toko/coffee shop/restoran tutup karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga daya beli terhadap kopi menurun," kata Paramita yang juga narasumber webinar itu.
 
Kafe-kafe di pusat Kota Bandarlampung, ibu kota Provinsi Lampung, saat pandemi masih tutup, meskipun kini sebagian di antaranya mulai beroperasi kembali.
 
Koordinator Ruko Ir Warsito mengatakan di tengah pandemi ini, mendorong petani kopi mengembangkan budi daya kopi agroforestri.
 
Menurutnya, metode budi daya tersebut dapat meningkatkan produksi kopi dengan tetap menjaga lingkungan sekitar, mengingat agroforestry menggabungkan pengelolaan sumber daya hutan dan pepohonan dengan komoditas kopi.
 
"Ke depan, kami mendorong pihak terkait seperti pemerintah daerah untuk dapat mengembangkan model tanam kopi secara agroforestry, sehingga dapat menjaga hutan dan tetap menjaga kualitas produksi kopi," ujarnya.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif