Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani pada program acara Headline News Metro TV, Kamis, 3 Desember 2020 (Foto:Dok.Metro TV)
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani pada program acara Headline News Metro TV, Kamis, 3 Desember 2020 (Foto:Dok.Metro TV)

Peningkatan Penyerapan PEN Tekan Kontraksi Ekonomi

Ekonomi Pemulihan Ekonomi Nasional
Gervin Nathaniel Purba • 04 Desember 2020 06:29
Jakarta: Realisasi penyerapan anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mengalami kenaikan Rp64,91 triliun, menjadi Rp431,54 triliun per 25 November 2020. Kenaikan ini diharapkan dapat mendorong bangkitnya pertumbuhan ekonomi nasional.
 
Angka tersebut jika dirinci yaitu realisasi untuk sektor kesehatan adalah Rp40,32 triliun dari pagu Rp97,9 triliun. Perlindungan sosial realisasinya sebesar Rp207,8 triliun dari Rp233,69 triliun. Sektoral K/L dan Pemda terealisasi Rp36,25 triliun dari Rp65,97 triliun.
 
Selanjutnya untuk dukungan UMKM direalisasikan sebesar Rp98,76 triliun dari Rp115,82 triliun, insentif usaha terealisasi Rp46,4 triliun dari Rp120,6 triliun, dan pembiayaan korporasi yang sudah disalurkan sebesar Rp2 triliun dari Rp61,2 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani, adanya stimulus tersebut dapat menahan kontraksi pada pertumbuhan ekonomi. Jika pemerintah tidak sigap memberikan stimulus, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi yang sangat parah.
 
"Kalau kita lihat, stimulus sudah mulai berjalan cepat, sehingga menahan kontraksi. Diharapkan kuartal IV-2020 sudah membaik," ujar Rosan, pada program acara Headline News Metro TV, Kamis, 3 Desember 2020.
 
Jika dilihat dari rincian tersebut, stimulus itu sangat berperan dalam menolong dunia usaha dan UMKM bangkit. Hingga kini, pertumbuhan dari kedua sektor tersebut sudah mulai terlihat berkat adanya stimulus dari pemerintah. Mulai dari penanaman modal asing yang mencapi sudah 50 persen dan penjualan motor sudah naik dari bulan ke bulan.
 
"Terutama UMKM yang dirasa membantu mereka bertahan lebih dahulu, karena dampak ke UMKM paling besar. Penyerapan UMKM paling tinggi 4,7 persen," ujarnya.
 
Adanya stimulus ini, menurut Rosan, sudah mulai memulihakn daya beli masyarakat. Meskipun pada tren positif ini masih ada industri yang mengalami tekanan. Mal, misalnya.
 
"Mal baru mengalami tekanan sekarang. Kita lihat tenant banyak yang keluar. Secara garis besar, peningkatan ini diharapkan tetap terjaga hingga tahun depan," ujar dia.
 
Di satu sisi, Rosan juga menjelaskan alasan pembiayaan korporasi baru terserap Rp2 triliun. Menurutnya, stimulus itu sebagian besar ditujukan untuk perusahaan BUMN, dan dibutuhkan berbagai proses agar proses penyerapan berlangsung transparan.
 
"Kami melihat demand dari proses ini berjalan. InsyaAllah dalam waktu dekat akan cair kebutuhan akan korporasi dan memastikan ini semua ada," ucap Rosan, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Satgas PEN.
 
(ROS)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif