Ilustrasi Kendaraan Listrik. Foto: Medcom.id/Ekawan Raharja
Ilustrasi Kendaraan Listrik. Foto: Medcom.id/Ekawan Raharja

Industri Otomotif RI Didorong Mulai Banting Setir Siapkan Kendaraan Berbasis EV

Antara • 15 Agustus 2022 14:28
Tangerang: Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier menekankan transmisi kendaraan berbahan bakar fosil (Internal Combustion Engine/ICE) menuju kendaraan listrik (EV) perlu diimbangi dengan kesiapan industri manufaktur di tiap negara, termasuk Indonesia.
 
"Selain behaviour masyarakat yang harus disiapkan, industri manufacturing harus disiapkan untuk transisi. Kita harus siap dari hulu ke hilir. Kita harus balance dalam melihat kebutuhan nasionalnya sendiri," kata Taufik dalam seminar di GIIAS 2022 di ICE BSD Tangerang, dilansir Antara, Senin, 15 Agustus 2022.
 
Baca juga: Selain Mobil Listrik, Motor Listrik Bertebaran di GIIAS 2022

Taufiek menyebutkan, saat ini terdapat 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa sedang mempersiapkan rencana phase out kendaraan berbasis fosil di 2035 hingga 2040. Selain itu, negara-negara lain juga tengah menyiapkan peta jalan dan regulasi yang cocok untuk mewujudkan visi yang kurang lebih sama.
 
Dengan kondisi itu, Taufiek mengingatkan mengenai roadmap dan concern industri otomotif Tanah Air agar tidak lagi berfokus pada produksi mobil berbahan fosil tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Artinya apa? Artinya Indonesia yang selama ini mengekspor mobil ICE ke banyak negara, kalau kita masih membuat mobil ICE, pasar semakin sulit, dan ini menjadi concern mengapa kita mempersiapkan roadmap secara kuat. Hal ini harus diantisipasi Indonesia agar pasar ekspor bidang otomotif tetap terjaga," jelas Taufiek.
 
Taufiek juga menambahkan, penting bagi pemangku kepentingan terkait di sektor industri manufaktur dan otomotif untuk turut mempersiapkan jenis kendaraan yang lebih ramah lingkungan, karena pasar dan minat yang seiring berjalannya waktu turut berubah.
 
"Jadi, kita punya waktu sampai 2030 untuk memiliki manufaktur yang produksi kendaraan elektrifikasi, apapun bentuknya, mau hibrida, full baterai, dan sebagainya. Kita harus siap. Kalau tidak siap, maka akan mendistorsi manufaktur itu sendiri," ujar Taufiek.

 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif