Ilustrasi kenaikan harga minyak goreng di pasaran - - Foto: dok MI
Ilustrasi kenaikan harga minyak goreng di pasaran - - Foto: dok MI

Harga Minyak Goreng Naik, Pemerintah Diminta Tak Bangga dengan Surplus Ekspor

Ekonomi kenaikan harga Ekspor minyak goreng komoditas Minyak Goreng Satu Harga
Insi Nantika Jelita • 25 Januari 2022 21:35
Jakarta: Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai penyebab meroketnya harga komoditas dalam negeri, seperti minyak goreng karena masifnya kegiatan ekspor yang dilakukan pemerintah selama setahun terakhir.
 
Dikutip laman resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, kinerja surplus sepanjang 2021 ditopang dari nilai ekspor yang mencapai USD231,54 miliar atau tumbuh sebesar 41,88 persen (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk CPO atau minyak sawit mentah, berhasil mendorong performa ekspor Indonesia.
 
"Kalau kita bangga ada surplus ekspor akan membuat komoditi yang dari over supply bisa menipis. Jangan membuat kebijakan yang hanya cari keuntungan sesaat tetapi tidak dipikir jangka panjangnya," dalam acara Festival Pesona Kopi 'Jumpa Pakar' yang diselenggarakan Media Indonesia, secara virtual, Selasa, 25 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fithra mengatakan dari hasil simulasi pihaknya bahwa komoditas Indonesia tercatat oversupply. Misalnya, produksi minyak sawit mentah Indonesia bisa mencapai 80 juta ton per tahun dengan demand 50 juta ton.
 
"Masalahnya ekspor terbesar kita didominasi komoditi. Kita jangan terlalu sempit pandang soal (ekspor) ini. Tapi, tidak bisa menerawang jauh apakah stok akan aman kedepannya atau tidak. Sama seperti batu bara, kita kan oversupply, tapi alami masalah," sebut Fithra.
 
Pemerintah pun menelurkan program satu harga minyak goreng sebesar Rp14 ribu per liter. Namun, berdasarkan laporan yang dihimpun Media Indonesia, program itu masih sulit diikuti maksimal karena pedagang pasar tradisional masih mematok harga minyak goreng di kisaran Rp18.000-Rp21.000 per liter.
 
"Makanya ada rencana kita mau menahan ekspor CPO karena soal ini. Di mini market minyak goreng habis terjual. Masalah krusial ini memang pondasi dasarnya ada di kelancaran logistik dan pengawasan perdagangan internasional," kata Direktur Eksekutif Next Policy ini.
 
Sementara, Guru Besar Tetap Ilmu Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin menuturkan, lonjakan harga komoditas ini bersifat seasonal atau musiman. Di sisi lain dia beranggapan Indonesia bisa menjadi market leader kelapa sawit.
 
Ini didukung dengan luas areal kelapa sawit di Tanah Air yang mencapai 16,5 juta hektare di 2021 dan memproduksi 53,5 juta ton CPO. "Jangan-jangan kita sudah disebut market leader sawit. Dari 20 tahun terakhir ini ekspor kita terus meningkat. Memang masalah (harga) komoditas ini seasonal, tapi menuju keseimbangan baru," pungkasnya

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif