Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Foto : Medcom/Desi.
Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Foto : Medcom/Desi.

Teknologi Kunci Utama Industri Migas Efisien dan Kompetitif

Ekonomi Kementerian ESDM
Suci Sedya Utami • 02 Agustus 2020 19:15
Jakarta: Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyampaikan kehadiran pandemi covid-19 menuntut perusahaan minyak dan gas (migas) agar lebih efisien dalam menjalankan roda usahanya. Penerapan teknologi juga akan membuat bisnis semakin kompetitif.
 
Namun, menurutnya efisiensi akan sangat sulit dilakukan tanpa penerapan teknologi yang mendukung. Sayangnya penerapan teknologi di industri migas Tanah Air belum semasif negara-negara penghasil migas lainnya di dunia.
 
"Di masa pandemi ini kita tekankan selalu efisiensi. Pilar dari efisiensi adalah pertama penggunaan teknologi tepat guna yang lebih canggih, kedua sistem yang baik, ketiga human resources yang mendukung. Efisiensi tanpa teknologi itu sulit terjadi," kata Arcandra dalam bincang santai, Minggu, 2 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ini mengatakan alasan yang membuat teknologi susah untuk masuk ke Indonesia yakni karena kerelaan (willingness) untuk menerima sesuatu yang baru namun memiliki risiko yang besar. Ia bilang terkadang di Indonesia pandangan-pandangan untuk tidak berinvestasi di hal-hal yang memiliki risiko tinggi masih sangat besar.
 
Padahal, menurut Arcandra banyak pencapaian-pencapaian di dunia yang perlu dibuktikan dengan penerapan teknologi yang awalnya tidak langsung sukses atau menuai kegagalan-kegagalan terlebih dahulu. Padahal, begitu penerapan teknologi tersebut berhasil diaplikasikan maka manfaat yang didapatkan akan sangat besar.
 
"Teknologi baru kadang punya risiko tapi punya juga benefit yang jauh lebih besar dari risikonya, karena yang ditonjolkan dari sisi risikonya, mati sebelum berkembang," tutur Arcandra.
 
Ia mengibaratkan seperti operasi jantung pada penderita jantung yang tentunya juga memiliki risiko besar. Namun dokter dan pasien menanggung risiko tersebut dengan harapan jika berhasil, maka jantungnya akan berfungsi lebih baik dibanding apabila tidak dilakukan operasi. Demikian juga industri migas dengan kehadiran teknologi yang akan memompa kinerja dan operasional lebih baik lagi.
 
Arcandra mengatakan di tanah air wilayah kerja migas yang sudah terlebih dahulu menerapkan efisiensi dengan penggunaan teknologi yakni Blok Rokan. Penerapan teknologi untuk menciptakan efisiensi juga akan diadopsi oleh Arcandra di PGN. Misalnya penggunaan teknologi-teknologi baru yang berhubungan dengan supply chain dari gas alam baik LNG, CNG maupun gas pipa.
 
"Rokan sudah ya, mungkin nanti beberapa proyek FSRU akan kita (PGN) efisienkan, beberapa proyek di situ apakah pilihan teknologi yang benar, apakah cost-nya benar, kemudian apakah customernya happy atau tidak karena PGN bisa memberikan layanan yang bagus, andal dan kompetitif," jelas Arcandra.

 

(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif