Hotel. Foto : MI.
Hotel. Foto : MI.

Bisnis Perhotelan Hanya Mampu Bertahan Sebulan Lagi

Ekonomi hotel
Ilham wibowo • 03 Juni 2020 12:32
Jakarta: Bisnis perhotelan di Tanah Air mengalami situasi tersulit dampak covid-19 yang belum tertangani. Perlahan tapi pasti, jurang kebangkrutan bagi pelaku usaha di sektor ini semakin nyata dalam satu bulan ke depan.
 
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan industri perhotelan mengalami pukulan keras sejak diumumkannya status darurat kesehatan nasional pada pertengahan Maret 2020. Bisnis kemudian terpaksa berhenti sementara untuk menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mulai serentak pada April 2020.
 
"Punya waktu satu bulan itu skala nasional, kami sudah sampaikan dari April kepada Pemerintah bahwa pengusaha itu hanya memiliki kekuatan sampai Juni," kata Maulana kepada Medcom.id, Rabu, 3 Juni 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, ruang waktu satu bulan itu berlaku bagi perusahaan yang memiliki kekuatan finansial maksimal. Kondisi terburuk saat ini sudah banyak dirasakan perusahaan yang menanggung beban berat kredit dan biaya operasional tanpa adanya kelancaran cash flow keuangan.
 
"Kondisi ini nyata untuk industri jasa seperti ini. Sekarang kita perhatikan saja tour guide itu kan profesi, kalau tidak ada grup dia mau kerja apa. Di pariwisata jasa seperti itu kalau tidak ada pergerakan orang itu berdampak cukup besar," paparnya.
 
Menurut Maulana, industri pariwisata khususnya hotel dan restoran sangat membutuhkan bantuan Pemerintah dalam bentuk modal kerja untuk membayar kebutuhan operasional seperti listrik, gaji karyawan, serta utilitas kamar dan restoran. Hasil perhitungan PHRI, dana yang dibutuhkan untuk digunakan dalam enam bulan jumlahnya mencapai Rp21,3 triliun.
 
"Banyak permohonan dari pelaku pariwisata agar Pemeritah membantu dari sisi modal kerja. Kemarin saja banyak yang dialokasikan untuk bayar utang, bayar listrik dan segala macam," kata Ketua Apindo bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.
 
Sektor perhotelan, kata Maulana, tidak akan langsung bangkit hanya dengan skema kenormalan baru yang diterapkan mulai Juni 2020 ini. Hal tersebut terutama dipengaruhi masih sulitnya masyarakat untuk bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.
 
Selain itu, kegiatan Pemerintah baik pusat dan daerah juga saat ini tengah fokus untuk menangani pandemi covid-19. Sehingga, belanja anggaran Pemerintah yang biasanya masuk sebagai okupansi terbesar bagi perhotelan tak akan ada hingga akhir 2020.
 
"Kalau kita lihat kedepan perkembangan tahun ini tentu mereka tidak bisa bangkit langsung, karena kegiatan pemerintahan itu sudah fokus ke penanganan pandemi, satu satunya harapan kami ada di 2021," tuturnya.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif