Nelayan. Foto : MI.
Nelayan. Foto : MI.

PPNI Gandeng Pemerintah Kurangi Beban Ekonomi Nelayan

Ekonomi nelayan
Antara • 27 April 2020 22:32
Jakarta: Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) terus melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam rangka mengurangi beban ekonomi nelayan, terutama perempuan, di tengah pandemi virus korona baru atau covid-19.
 
"Saat ini informasinya pemerintah masih dalam tahap pendataan," ujar Sekjen PPNI Masnuah dikutip dari Antara, Senin, 27 April 2020.
 
Ia menyampaikan bahwa pihaknya berupaya menggalang donasi untuk memenuhi kebutuhan nelayan di tengah harga hasil laut yang menurun tajam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Inisiatif kami sebagai masyarakat di tengah adanya covid-19 itu yakni berbagi masker, sembako, masker, hand sanitizer dengan mengalang donasi," katanya.
 
Ia mengemukakan donasi itu datang dari berbagai kalangan di antaranya dari dana tanggungjawab sosial perusahaan (CSR), Baznas, dan donatur perorangan. Masnuah menambahkan penggalangan donasi itu dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan, khususnya di wilayah Demak, Jawa Tengah.
 
"Aktivitas nelayan memang masih biasa, namun ekonomi lumpuh karena hasil tangkapan turun drastis, sehingga tidak cukup memengaruhi kondisi ekonomi nelayan. Mudah-mudahan covid-19 segera berakhir," ucapnya.
 
Dalam kesempatan sama Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika mengatakan bahwa pihaknya memiliki beberapa skema dalam rangka membantu masyarakat terdampak covid-19.
 
Ia memaparkan salah satu skema yang dijalankan yakni menampung donasi dari petani yang selanjutnya disalurkan ke berbagai elemen masyarakat, seperti masyarakat miskin di perkotaan, buruh yang sudah dirumahkan, hingga ke sejumlah nelayan.
 
"Jadi petani yang lumbung pangannya di tingkat keluarga bahkan tingkat kabupaten sudah secure setidaknya sampai tiga bulan hingga sampai enam bulan ke depan, ada yang ingin mendonasikan maka dia akan mendonasikan ke Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria (GeSLA)," ucapnya.
 
Skema lanjutan, pihaknya melakukan jemput bola dengan langsung datang ke sentra petani untuk kemudian disalurkan ke konsumen prioritas dengan harga terjangkau.
 
"Jadi tidak ada lagi hasil panen ke tengkulak atau ke rantai yang panjang. Di masa ini salah satu konsumen prioritasnya adalah buruh yang terdampak. Kita kerja sama dengan serikat buruh menyediakan pangan yang sehat dan ekonomis," paparnya.
 
Skema lainnya, lanjut dia, membagikan gratis hasil pertanian ke berbagai elemen masyarakat. "Jadi berikan free, tidak ada konsep tekan harga. Yang disalurkan tidak hanya beras dari petani tapi juga umbi dan sayuran," paparnya.
 
Ia menambahkan pihaknya juga mencoba untuk menghubungkan hasil laut dari nelayan ke petani yang sifatnya barter.
 
"Saat ini modal sosial dengan saling menghubungkan menjadi kesegaran baru di tengah krisis akibat covid-19. Ini penting, kalau tidak gotong-royong kita akan hadapi krisis berlapis," kata Dewi.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif