Ilustrasi industri manufaktur. Foto: Medcom.id
Ilustrasi industri manufaktur. Foto: Medcom.id

Jelang Akhir Tahun, PMI Manufaktur Indonesia Tembus Level Ekspansif

Ekonomi Kementerian Perindustrian industri manufaktur
Nia Deviyana • 01 Desember 2020 16:13
Jakarta: Industri manufaktur di dalam negeri terus menunjukkan geliat yang positif jelang akhir 2020. Hal ini terlihat dari hasil Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada November yang menembus level 50,6 atau naik hampir tiga poin dibanding capaian pada Oktober di angka 47,8.
 
Berdasarkan hasil survei yang dirilis IHS Markit tersebut, PMI berada di atas peringkat 50 menandakan sektor manufaktur dalam tahap ekspansif. Melonjaknya PMI manufaktur Indonesia pada bulan ke-11 ini didorong oleh peningkatan produksi karena pesanan bertambah signifikan selama tiga bulan terakhir.
 
Di samping itu, kinerja gemilang didukung dengan kebijakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta pada pertengahan Oktober. Artinya, pembukaan kembali jalur produksi dapat memacu penjualan dan volume output.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini merupakan kabar gembira dari sektor industri, kenaikan PMI merupakan indikasi ekonomi, khususnya sektor industri, mulai berekspansi menjelang akhir tahun dengan indeks di atas 50," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono melalui keterangan tertulis, Selasa, 1 Desember 2020.
 
Kemenperin mengapresiasi sektor manufaktur dalam negeri yang menunjukkan keuletan dan mampu memanfaatkan peluang rebound dengan dukungan pemerintah.
 
"Kami berupaya mempertahankan posisi ekspansi, bahkan meningkatkan angkanya di tahun depan seiring dengan program vaksinasi dari pemerintah," ujar Sigit.
 
Sigit menyebutkan Kemenperin akan terus mendorong pelaksanaan kebijakan strategis untuk mendukung pemulihan industri nasional, sekaligus mewujudkan sektor industri yang maju dan berdaya saing. Salah satunya adalah program substitusi impor 35 persen pada 2022.
 
"Saat ini kondisi sektor industri perlu pendalaman struktur serta perlu kemandirian bahan baku dan produksi, sehingga program ini kami prioritaskan pelaksanaannya," ujarnya.
 
Substitusi impor juga diharapkan mampu memperbaiki persoalan lain seperti regulasi dan insentif yang belum mendukung sektor industri serta belum optimalnya penerapan program P3DN.
 
Adapun pertumbuhan sektor industri nonmigas sepanjang 2020 diperkirakan masih akan terkontraksi, namun dengan perbaikan pertumbuhan di minus 2,22 persen.
 
"Sedangkan, dengan asumsi pandemi covid-19 sudah dapat dikendalikan serta vaksin sudah tersedia, dan aktivitas ekonomi mulai pulih, pertumbuhan sektor manufaktur diproyeksikan mencapai 3,95 persen pada 2021," pungkas Sigit.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif