Konser musik. Foto : MI/Ardi.
Konser musik. Foto : MI/Ardi.

Solusi Pelaku Ekonomi Kreatif Hadapi Pandemi Covid-19

Ekonomi Konser Musik Kemenparekraf covid-19 PPKM
Arif Wicaksono • 20 Oktober 2021 16:37
Jakarta: Pelaku ekonomi kreatif, khususnya industri musik, memiliki cara untuk bertahan selama pandemi covid-19. Mereka berusaha menyiasati penyelenggaraan konser musik menjadi sumber ekonomi mereka yang berkecimpung di subsektor ini. Kendati secara nasional saat ini Indonesia telah terbebas dari zona merah, namun pemerintah masih sangat berhati-hati dalam hal penyelenggaraan kegiatan seni berskala besar, seperti konser musik misalnya.
 
Mobilitas banyak orang dan kegiatan yang menimbulkan kerumunan bisa meningkatkan risiko transmisi virus korona, sehingga harus diiringi dengan aturan dan tata kelola, pembatasan kapasitas dan banyak pedoman lainnya, selain disiplin penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat.
 
Direktur Musik, Film, dan Animasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Mohammad Amin mengatakan, untuk penyelenggaraan konser/event seiring membaiknya situasi pandemi, pihaknya harus tetap berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dari Kemenparekraf sendiri panduannya adalah CHSE (Cleanliness atau kebersihan, Health atau kesehatan, Safety atau keamanan, dan Environment Sustainability atau kelestarian lingkungan)," ujarnya dalam keterangan resminya, Rabu, 20 Oktober 2021.
 
Terdapat pula beberapa aturan lain seperti diwajibkan tes antigen atau PCR, menghindari interaksi fisik sesama musisi atau mengajak penonton ke panggung, menggunakan instrumen pribadi yang sudah disucihamakan, dan beberapa lainnya. Terkait perizinan, pihaknya hanya sebatas memberikan rekomendasi.
 
"Kemenparekraf bisa berikan rekomendasi, namun untuk izin wilayah masing-masing itu berada di ranah Pemda, akan berikan izin atau tidak. Tergantung pada dari status wilayahnya," ujar Amin.
 
Penyelenggaraan konser, menurutnya, tetap bisa digelar di masa pandemi dengan melakukan sejumlah improvisasi, misalnya konser di sejumlah titik destinasi wisata super prioritas seperti Labuan Bajo, Mandalika,  Danau Toba dan Candi Borobudur tanpa penonton.
 
"Meski tanpa penonton, tapi sangat fenomenal karena idenya menarik, yaitu berlangsung di titik destinasi wisata penting," ujar Amin.
 
Konser hybrid, sebut Amin, merupakan alternatif yang pas untuk menggelar event/konser di masa pandemi. "Bahkan setelah pandemi selesai fenomena hybrid akan terus bertambah, karena digitalisasi tdk terhindarkan. Dunia musik masuk ke dalam digitalisasi ini. Musik itu bagian dari kesenian, orang akan cenderung kreatif di masa sulit. Nantinya hybrid akan menjadi sesuatu yang jamak," ujarnya.

Tujuan industri kreatif dibuka kembali


Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B Harmadi, menyampaikan tujuan utama pembukaan kembali industri kreatif adalah untuk membantu memulihkan produktivitas masyarakat, jaga pertumbuhan ekonomi.
 
"Jadi ada proses peralihan di dalamnya. Ada istilah untuk ini, yaitu transisi darurat ke pemulihan, namun harus dilakukan dengan adaptasi kebiasaan baru. Semua pihak harus betul-betul mematuhi prokes dan melaksanakannya dengan aman dari covid-19," ujar Sonny.
 
Sonny menambahkan, bila semua elemen berkomitmen dan konsisten, maka upaya membangkitkan ekonomi sekaligus menjaga kesehatan dapat dilakukan, sehingga bisa menurunkan pandemi ke endemi.
 
Harus diakui, kasus covid-19 melandai dan terkendali, namun hal ini jangan sampai menimbulkan euforia yang berpotensi membuat kasus kembali naik. Konser musik memerlukan komitmen tegas dari penyelenggara dalam menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tak hanya itu, penyelenggara pun harus membentuk Satgas atau panitia khusus yang berdedikasi mengawasi protokol kesehatan selama konser musik berlangsung.
 
Ia menegaskan, semua event skala besar harus mendapat izin dari Satgas daerah. Mereka ini yang mengetahui status epidemiologi, cakupan vaksinasi, serta level PPKM daerah terkait.
 
"Selama wilayah itu berada di level PPKM yang tidak mungkin dilaksanakan kegiatan, maka tidak akan diberikan izin. Karenanya, izin dari Satgas daerah menjadi hal penting, mereka yang menilai risikonya," tuturnya.
 
"Kami mendorong setiap pelaksanaan event besar untuk memakai aplikasi PeduliLindungi. Sebelum pelaksanaan kegiatan, mintakan QR code ke Kemenkes untuk digunakan di seluruh pintu masuk," ujar Sonny.
 
Sonny menekankan pentingnya perlu sosialisasi aturan dan prokes supaya tidak terjadi pelanggaran dalam kegiatan. "Pelanggaran bisa terjadi bukan karena disengaja, namun karena faktor ketidaktahuan, karena itu harus disosialisasikan dengan baik. Sebelum, selama dan setelah acara apapun prokes harus dijalankan dengan baik. Jika sudah paham masih ada pelanggaran, maka bisa dilakukan penindakan," ujar Sonny.


Sosialisasi protokol kesehatan


Founder Of Backstagers Indonesia, Krisnanto Sutrisman mengatakan, asosiasi event organizer (EO) perlu mendapatkan sosialisasi dan pelatihan agar lebih memahami prokes dan tata cara melakukan event luring.
 
"Kami terdiri dari perusahaan event yang beragam, salah satunya adalah konser. Apabila bicara prokes untuk event, tidak hanya mengacu pada konser, karena ada juga corporate gathering atau marketing activation. Hal ini yang perlu lebih banyak disosialisasikan," ujarnya.
 
"Kami perlu pelatihan dan simulasi penanganan prokes agar orang-orang event bisa lebih ketat mengaturnya. Kami memahami, bahwa event dengan prokes sebaiknya dilakukan di dalam tempat yang terukur. Mungkin bisa dilakukan di area terbatas, bertahap dan perlahan. Untuk ini, edukasi ke ke masyarakat event harus lebih konkret. Kalau bicara siap, kami siap," ujar Krisnanto.
 
Hadir di kesempatan itu musisi Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka Slank), yang mengaku merindukan kembali tampil setelah nyaris dua tahun tidak bisa berinteraksi dengan audiens mengaku sudah berkomunikasi dengan promotor konser. "Kita harus siapkan konsep dari sekarang. Jadi jika nanti waktunya tiba, kita siap," ujarnya.
 
Ivanka menyebut, konser God Bless 48 Tahun yang berlangsung di ICE BSD baru-baru ini bisa dijadikan pembelajaran. "Konsepnya hybrid, ada penonton dengan keharusan di tes swab antigen selama acara dan setelahnya. Alhamdulillah tidak ada yang terinfeksi (covid-19)," pungkasnya.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif