Ilustrasi. Foto: AFP
Ilustrasi. Foto: AFP

Permintaan Meningkat, Harga Batu Bara Acuan Tembus ke Level Tertinggi

Ekonomi Pembangkit Listrik batu bara komoditas
Suci Sedya Utami • 05 Agustus 2021 10:26
Jakarta: Meningkatnya permintaan batu bara di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan kembali mengerek harga batu bara global, sehingga turut memengaruhi harga batu bara acuan (HBA) pada Agustus 2021 ke angka USD130,99 per ton. Ini merupakan angka tertinggi lebih dari satu dekade terakhir.
 
"Melambungnya harga batu bara dunia dipengaruhi musim penghujan yang ekstrem di Tiongkok yang mengganggu kegiatan produksi dan transportasi batu bara di negara tersebut, sementara kebutuhan batu bara meningkat untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik negara tersebut," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, Kamis, 5 Agustus 2021.
 
Agung mengatakan, menguatnya harga juga didorong meningkatnya permintaan batu bara dari Jepang dan Korea Selatan yang menjadi faktor naiknya harga batu bara global. Sebelumnya, pada Februari 2011 rekor HBA tertinggi dicatatkan sebesar USD127,05 per ton.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka USD115,35 per ton di Juli 2021. Ternyata, kenaikan tersebut terus konsisten hingga Agustus 2021 dengan mencatatkan rekor tertinggi baru.
 
HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6.322 kcal per kg GAR, Total Moisture delapan persen, total sulphur 0,8 persen, dan ash 15 persen.
 
Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu supply dan demand. Pada faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.
 
Sementara untuk faktor turunan, demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.
 
Nantinya, HBA Juli ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara free on board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).
 
 
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif