Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin
Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

Travel Corridor Dorong Investasi Singapura ke RI di Tengah Pandemi

Ekonomi investasi BKPM singapura
Husen Miftahudin • 27 Oktober 2020 16:41
Jakarta: Duta Besar Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengatakan peresmian Pengaturan Koridor Perjalanan atau Travel Corridor Arrangement (TCA) antara RI dan Singapura dapat meningkatkan realisasi investasi dari Negeri Singa ke Tanah Air. Pengaturan jalur khusus bisnis atau Reciprocal Green Lane (RGL) oleh Singapura ini sudah diimplementasikan penuh pada Senin, 26 Oktober 2020 oleh kedua negara.
 
"Indonesia terus mendiskusikan Travel Corridor Arrangement dengan banyak negara untuk meningkatkan investasi dan bisnis di tengah pandemi. Dengan Singapura, Travel Corridor Arrangement ini secara resmi diberlakukan kemarin," ujar Suryopratomo dalam acara 3rd Indonesia Investment Day yang dilaksanakan secara virtual, Selasa, 27 Oktober 2020.
 
Menurut Tomi, sapaannya, investasi asing di seluruh dunia terus memiliki tren baru di masa pandemi covid-19 ini. Oleh karenanya, penting bagi negara-negara dengan realisasi investasi asing terbesar di Indonesia untuk menerapkan cara dan pengaturan baru untuk lebih memudahkan para investor menanamkan modalnya di Tanah Air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Singapura salah satunya. Maklum, negara dengan julukan Negeri Singa itu kerap menempati peringkat pertama yang paling banyak berinvestasi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dari 2015 hingga 2019, investasi Singapura yang ada di Indonesia mencapai USD46,4 miliar. Sementara pada periode Januari hingga September, realisasi Investasi Singapura di Indonesia mencapai USD7,2 miliar.
 
"Ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap menarik bagi investor asing dan sekaligus menunjukkan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tidak hanya menawarkan pasar prospektif, tetapi juga diversifikasi produk yang dimiliki. Tak ayal ini membuat Indonesia menjadi kekuatan global yang sedang berkembang," tegasnya.
 
Terkait hal ini, Tomi yakin Indonesia dapat menjadi pusat industri manufaktur dalam rantai pasokan global. Namun mewabahnya pandemi covid-19 menyulitkan Indonesia untuk menggapai cita-cita tersebut, sebab sangat sulit hanya mengandalkan satu sumber produksi dalam rantai pasokan global.
 
"Kita harus membangun basis produksi yang bersaing dengan basis produksi tradisional. Saya yakin Indonesia memiliki keunggulan kompetitif untuk menjadi pusat basis produksi," harap dia.
 
Terkait acara 3rd Indonesia Investment Day, Tomi juga berharap hasil pertemuan ini dapat memberikan kontribusi signifikan bagi Indonesia. Tidak hanya untuk investasi dan realisasi proyek, tetapi juga untuk pemulihan ekonomi Indonesia dan Singapura yang terkena pandemi covid-19.
 
"Pandemi covid-19 saat ini menimbulkan tantangan yang signifikan bagi kita semua, pandemi juga membawa banyak negara berada pada resesi terparah. Oleh karena itu, hasil pertemuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia dan Singapura yang terkena pandemi ini," pungkas Tomi.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif