Ilustrasi kegiatan ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Ilustrasi kegiatan ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: dok MI/Pius Erlangga.

Ini Cara agar Indonesia Tak Bergantung pada Ekspor Komoditas

Fetry Wuryasti • 20 Maret 2022 18:26
Jakarta: Indonesia perlu meningkatkan ekspor produk olahan dan tidak menggantungkan ekspornya pada komoditas. Bergantung pada komoditas menyebabkan kinerja perdagangan dipengaruhi oleh fluktuasi harga dunia. Dibutuhkan upaya terstruktur untuk pelan-pelan menggeser komoditas sebagai andalan ekspor.
 
"Sekitar 45 persen ekspor Indonesia berbasis komoditas yang harganya fluktuatif dan sangat bergantung dengan dinamika yang terjadi di seluruh dunia," jelas Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Deasy Pane, dilansir Mediaindonesia.com, Minggu, 20 Maret 2022.
 
Rilis ekspor impor Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru kembali menunjukkan capaian tertinggi kumulatif Januari-Februari 2022 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, melanjutkan prestasi capaian ekspor di 2021. Namun demikian, sebagaimana diketahui, ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk berbasis komoditas yang memang harganya meningkat tajam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, jika dilihat secara volume ekspor, sebenarnya tidak sebombastis itu. Konflik Rusia-Ukraina, walaupun tidak berpengaruh langsung terhadap volume perdagangan Indonesia, berpengaruh signifikan pada pergerakan harga komoditas yang akan memengaruhi nilai perdagangan Indonesia.
 
Tingginya harga komoditas akan berpengaruh pada capaian ekspor Indonesia. Namun tidak mencerminkan kualitas dan daya saing produk Indonesia, serta hanya bersifat sementara. Dalam dua dekade terakhir kontribusi ekspor Indonesia ke dunia stagnan di angka 0,9 persen.
 
Sedangkan pelaku usaha industri yang terlibat dalam kegiatan ekspor juga hanya sekitar 18 persen, yang menunjukkan sebagian besar pelaku usaha Indonesia berorientasi domestik. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah perlu mendorong pelaku usaha agar berani bersaing di dalam negeri dan pasar ekspor, didukung oleh upaya peningkatan produktivitas dan kualitas yang memenuhi standar internasional.
 
Hal ini dapat dilakukan melalui komitmen pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang mendukung, iklim persaingan usaha yang sehat, peningkatan kapasitas tenaga kerja dan infrastruktur yang mendukung. Selain itu, dukungan terhadap inovasi, research and development dan penyerapan teknologi perlu ditingkatkan.
 
Kurangnya ekosistem research and development bisa berdampak pada lemahnya motivasi pelaku usaha untuk berinovasi dan hanya memanfaatkan pasar domestik yang besar untuk mendapatkan keuntungan. Padahal, research and development dibutuhkan untuk mengoptimalkan nilai produk atau menambah efisiensi proses, yang memang diperlukan untuk bersaing di pasar global.
 
"Dari sisi demand, pemerintah perlu memastikan akses pasar ekspor dapat mudah dan berbiaya rendah dengan penurunan hambatan tarif dan nontarif di pasar ekspor dan penyediaan informasi pasar yang lengkap dan mudah diakses," jelasnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif