Salah satu produk berbasis eucalyptus buatan Balitbangtan. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo
Salah satu produk berbasis eucalyptus buatan Balitbangtan. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo

Kalung Eucalyptus Kementan Beda dengan Shut Out dari Jepang

Ekonomi Kementerian Pertanian Kalung Eucalyptus
Ilham wibowo • 06 Juli 2020 16:23
Jakarta: Kalung aromaterapi eucalyptus hasil inovasi peneliti Kementerian Pertanian (Kementan) punya keunggulan berbeda dibandingkan kalung shut out buatan Jepang. Bahan aktif pada eucalyptus mampu bekerja menghentikan proses replikasi virus saat dihirup.
 
Peneliti Utama Virologi Molekuler Balitbangtan Indi Dharmayanti memaparkan bahwa cara kerja pada kalung aromaterapi eucalyptus yakni ada pada 1,8-cineole yang akan merusak struktur main protein (MPro) dari virus. Sehingga, virus akan sulit bereplikasi dan akhirnya terus berkurang jumlahnya.
 
"Mekanisme ini berbeda dengan shut out yang dari Jepang yang kandungannya adalah calcium chlorida (CaCl2) sejenis garam yang dapat memengaruhi kejenuhan udara di sekitarnya," kata Indi dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Senin, 6 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Indi, bentuk kalung pada aromaterapi eucalyptus dipilih agar mudah dibawa ke mana saja tanpa khawatir tertinggal atau tercecer. Produk ini dalam skala luas bisa saja didesain sebagai gantungan kunci, kipas, pulpen atau bentuk lainnya yang mengantarkan aromaterapi.
 
Selain itu, bentuk kantung berpori juga difungsikan agar luas bidang kontak menjadi besar dan menekan jumlah penggunaan bahan baku. Ukuran partikel bahan aktif eucalyptus juga telah diubah menjadi sangat kecil karena teknologi nano.
 
Adapun produk ini mengeluarkan aroma secara lepas lambat atau slow release sehingga berfungsi sebagai aromaterapi selama jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan efek aromaterapi yang optimal, penggunaannya dilakukan dengan cara menghirup aroma dari lubang-lubang kemasannya.
 
Indi menuturkan bahwa produk ini mengandung bahan yang telah diuji secara in-vitro di laboratorium memiliki aktivitas antivirus, baik terhadap virus influenza maupun virus korona yakni gamma-corona dan beta-corona.
 
"Produk shut out tidak dihirup seperti kalung eucalyptus. Sehingga kalau kita lebih banyak beraktivitas di luar maka tidak akan efektif. Sementara itu, untuk kalung eucalyptus selama cara pakainya sesuai aturan, diharapkan virus dapat diinaktivasi," paparnya.
 
Ia menambahkan, saat ini banyak informasi yang sudah mendukung hasil inovasi Balitbangtan ini. Minyak atsiri umumnya memiliki kemampuan sebagai antimikroba, antivirus, antikanker, antiksidan, anti inflamasi, peningkat daya tahan tubuh.
 
Minyak eucalyptus dengan kandungan bahan aktif 1,8 cineol atau eucalyptol telah terbukti memiliki kemampuan menghambat replikasi virus influenza (H1N1). Selanjutnya beberapa publikasi lain menyebutkan tentang potensi eucalyptus untuk penanganan gangguan pernapasan, terutama pada pasien dengan pembengkakan saluran nafas dan paru paru.
 
"Sebagai antioksidan bahkan eucalyptus sudah digunakan sebagai bahan aktif pada obat Soledum yang digunakan untuk pengobatan penyakit pernafasan," ucapnya.
 
Kemampuan antimikroba dari eucalyptus dan tea tree oil yang mengandung 1,8 cineol juga berpotensi untuk desinfektan mikroba. Pengujian ada dua minyak atsiri ini sebagai bahan desinfektan aerosol menunjukkan kemampuan antivirus yang kuat yaitu mampu membunuh lebih dari 95 persen virus dalam waktu paparan 5-15 menit.
 
"Banyaknya publikasi serta fakta empiris terkait minyak eucalyptus sudah digunakan secara turun temurun sebagai pengobatan alternatif untuk flu dan gangguan pernafasan tentunya menjadi pendukung dari inovasi yang dilakukan oleh Balitbangtan," pungkasnya.

 

(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif