Ilustrasi pupuk. Foto: dok Pupuk Indonesia.
Ilustrasi pupuk. Foto: dok Pupuk Indonesia.

Distributor Keluhkan Kuota Pupuk Subsidi Kurang

Ekonomi pupuk indonesia
Antara • 12 Agustus 2020 21:56
Jakarta: Sejumlah distributor di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengeluhkan kurangnya jumlah atau kuota alokasi pupuk bersubsidi. Hal ini demi mengantisipasi ketersediaan pupuk bagi petani untuk musim tanam Oktober 2020-Maret 2021.
 
Ketua Asosiasi Distributor Pupuk di Sulsel Sariyadi menegaskan bahwa tidak terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, khususnya untuk jenis urea, mengingat stok di gudang lini II dan III mencapai 63 ribu ton atau melebihi kebutuhan dasar.
 
"Sebetulnya bukan kelangkaan, yang terjadi adalah kuotanya habis. Kalau pupuknya, khusus urea dari PT Pupuk Kaltim itu, banyak sekali. Hanya saja, kuota yang tersedia itu sudah di atas 90 persen, sementara masih ada satu musim tanam berikutnya," kata Sariyadi saat dihubungi Antara, Rabu, 12 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sariyadi menjelaskan sebanyak 42 distributor di Sulsel telah menyalurkan pupuk urea bersubsidi sekitar 215 ribu ton atau 92 persen dari alokasi yang diberikan pemerintah untuk provinsi tersebut sebanyak 233 ribu ton.
 
Padahal, alokasi pupuk urea bersubsidi di Sulsel pada tahun lalu mencapai 275 ribu ton. Dengan begitu, ada kekurangan volume pupuk hingga 40 ribu ton lebih untuk memenuhi kebutuhan musim tanam pada Oktober 2020.
 
Sariyadi menuturkan jika tidak diantisipasi dengan penambahan kuota, maka tentu akan menyulitkan petani untuk berproduksi pada musim tanam kedua.
 
"Kalau nanti pada bulan 10 (Oktober), tidak ada kuota dan masyarakat petani daya belinya belum sampai membeli pupuk subsidi karena ada efek pandemi, maka akan terjadi ribut-ribut, karena sisanya hanya delapan persen untuk musim tanam kedua," katanya.
 
Kementerian Pertanian (Kementan) telah menetapkan alokasi subsidi pupuk pada tahun ini sebanyak 7,94 juta ton dengan nilai Rp26,6 triliun. Alokasi tersebut turun dibanding 2019 sebanyak 9,55 juta ton dengan anggaran Rp29 triliun.
 
Pengurangan alokasi tersebut berdasarkan validasi data lahan baku sawah dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
 
Di sisi lain, PT Pupuk Indonesia (Persero) selaku BUMN yang ditugaskan menyalurkan pupuk bersubsidi telah merealisasikan sebanyak 5,4 juta ton hingga 5 Agustus 2020.
 
Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia Wijaya Laksana sebelumnya mengatakan realisasi tersebut setara dengan 68 persen dari alokasi nasional pada 2020 yang sebesar 7,9 juta ton, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2020.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif