Kenaikan angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia jadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Foto: Antara/Hafidz Mubarak
Kenaikan angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia jadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi. Foto: Antara/Hafidz Mubarak

Industri Padat Karya yang Sudah Bergerak Harus Dijaga

Ekonomi industri manufaktur Pemulihan Ekonomi
Ilham wibowo • 05 Agustus 2020 10:36
Jakarta: Industri manufaktur di Indonesia yang melibatkan banyak tenaga kerja perlahan mulai menunjukkan gerak peningkatan produktivitas setelah tertekan pandemi covid-19. Situasi ini perlu terus ditingkatkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
 
Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan bahwa meningkatnya produktivitas ditunjukkan dari kenaikan angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia. Pada Juli 2020, PMI berada di level 46,9 atau naik dibandingkan bulan sebelumnya yang menempati posisi 39,1.
 
"Kaitannya lebih kepada karena kita banyak Industri padat karya, PMI ini jelas menunjukkan kita sudah bergerak," kata Shinta kepada Medcom.id, Rabu, 5 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Periode Januari-Juni 2020, industri pengolahan nonmigas tercatat masih konsisten menjadi sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Total nilai pengapalan produk sektor manufaktur mampu menembus USD60,76 miliar atau menyumbang 79,52 persen dari keseluruhan angka ekspor nasional yang mencapai USD76,41 miliar.
 
"Positif itu bahwa sudah ada peningkatan, artinya produksi kita sudah berjalan. Tapi kita harus ingat bahwa kembali ke angka sebelum pandemi itu tidak mudah, perlu diberikan stimulus supaya bisa terus jalan," papar Shinta.
 
Stimulus atau insentif bagi perlindungan industri dalam negeri sangat diperlukan seperti penurunan harga gas dan fasilitas keringanan biaya listrik untuk menghadapi situasi pandemi saat ini.
 
Pelaku usaha, kata dia, akan tetap produktif dengan implemetasi pengeluaran ongkos operasional yang bisa dibuat lebih efisien.
 
"Kita mesti lihat dari segi cost produksi, kita juga mesti hati hati jangan sampai meningkat lalu karena ongkos yang tinggi kemudian tidak bisa menutup biaya yang ada. Supply maupun demand juga mesti terus dijaga," tuturnya.
 
(DEV)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif