Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

PHRI: Kenormalan Baru Lebih Baik Daripada Tidak Ada

Ekonomi hotel Kenormalan Baru
Ilham wibowo • 03 Juni 2020 15:00
Jakarta: Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyebut bahwa implementasi kenormalan baru di sektor pariwisata sedikitnya akan mengurangi tekanan ekonomi nasional. Akan tetapi, pendapatan tahunan dipastikan bakal tetap terpangkas.
 
"Pasti saat berjalan kenormalan baru pendapatan jauh berkurang, turun mungkin bisa 50 persen sampai 60 persen bahkan bisa 75 persen dari sebelumnya, tapi itu lebih baik daripada enggak ada," kata Maulana kepada Medcom.id, Rabu, 3 Juni 2020.
 
Ia memaparkan bisnis perhotelan di Indonesia setiap tahunnya hanya mengandalkan tiga momentum puncak okupansi yakni Lebaran, Natal, dan perayaan tahun baru. Khusus momentum Lebaran 2020, okupansi hotel mengalami kinerja minus lantaran bersamaan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nah yang paling banyak dan ada sepanjang tahun itu adalah bisnis terkait dengan kegiatan pemerintah. Dia (pegawai ASN) pergi ke daerah, lalu lintas, koordinasi dan sebagainya itu yang banyak berkontribusi terhadap okupansi hotel di seluruh daerah secara nasional," paparnya.
 
Hilangnya potensi pendapatan bisnis hotel dari kegiatan pemerintahan tersebut juga lantaran fokus anggaran negara yang lebih banyak untuk penanganan covid-19. Melihat kondisi itu, menurut Maulana, sepanjang 2020 ini para anggota PHRI hanya hanya akan mengambil peluang sebaik mungkin untuk menjaga aset perusahaan dari kebangkrutan.
 
"Kalau pemerintah mempercepat pandemi tahun ini selesai, kondisi 2021 perhotelan akan normal lagi. Saya rasa kegiatan pemerintah yang juga berlangsung secara normal akan mempercepat pemulihan pariwisata domestik di Indonesia," ucap Ketua Apindo bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.
 
Lebih lanjut, Maulana menyebutkan bahwa industri perhotelan di Indonesia hanya mampu bertahan satu bulan lagi atau hingga Juni 2020. Karenanya, ia mendorong pemerintah untuk memberikan modal kerja di sektor pariwisata selama enam bulan ke depan.
 
"Sektor pariwisata dibuka new normal itu tidak akan bisa langsung beroperasi atau berjalan dengan begitu saja. Kalau urusan pergerakan orang tidak diurusi ya tidak akan terjadi itu bisnis berjalan," ucapnya.
 
Sejauh ini, pemilik atau operator hotel dengan kekuatan finansial lemah sudah banyak yang berguguran. Tak terkecuali, pukulan keras juga terjadi terhadap startup agregasi pencarian hotel virtual yang baru-baru ini telah menutup aktivitas bisnisnya seperti Airy Rooms.
 
"Semua bisa kena, situs internasional saja seperti Agoda sudah mengurangi atau PHK karyawan lebih dari 2.000 orang. Semua pasti terdampak karena mereka sifatnya menjual jasa atau menjadi operator hotel tersebut. Nah kalau hotel tidak bisa beroperasi bagaimana mereka membayar manajemen," imbuhnya.

 

(DEV)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif