Harga bawang merah di Indonesia lebih mahal dari negara tetangga ASEAN. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Harga bawang merah di Indonesia lebih mahal dari negara tetangga ASEAN. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Duh! Harga Bawang Merah di Indonesia Lebih Mahal dari Negara Tetangga ASEAN

Ekonomi Harga Bawang Merah Kementerian Perdagangan asean bawang harga bawang
Fetry Wuryasti • 27 Oktober 2021 21:50
Jakarta: Harga bawang merah Indonesia lebih mahal dari beberapa negara tetangga di ASEAN, yaitu Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura. Beberapa penyebab tingginya harga bawang merah Indonesia adalah tingginya biaya logistik dan belum meratanya infrastruktur pelabuhan dan jalan.
 
"Biaya logistik yang tinggi dan infrastruktur pelabuhan maupun jalan yang tidak merata menyebabkan bawang merah di Indonesia memiliki harga yang tinggi," terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan, dilansir Mediaindonesia.com, Rabu, 27 Oktober 2021.
 
Indra mengatakan, kedua hal tersebut menjadi penting mengingat distribusi bawang merah sendiri belum merata di Indonesia. Lebih dari 70 persen luas lahan panen bawang merah berada di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sementara kebutuhan merata di seluruh Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data Indeks Bulanan Rumah Tangga (BuRT) dari CIPS menunjukkan harga bawang merah di September sebesar Rp78.472 per kilogram (kg) di Indonesia. Sementara di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Singapura harganya masing-masing sebesar Rp27.140, Rp50.465, Rp64.727, dan Rp61.240 pada periode yang sama.
 
Indeks BURT mengamati pengeluaran untuk bahan pangan pokok masyarakat Indonesia dibandingkan dengan pengeluaran serupa di Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Infrastruktur cold storage kurang

Kurangnya infrastruktur cold storage atau lemari pendingin juga berkontribusi kepada fluktuasi harga komoditas ini di dalam negeri.
 
Pada September 2021 misalnya, harga bawang merah turun menjadi Rp78.472 per kg dari Rp79.389 per kg di bulan sebelumnya. Menurut Kementerian Perdagangan, terdapat hanya satu fasilitas cold storage di setiap kabupaten, sehingga petani tidak dapat menyimpan bawang merah dengan baik.
 
Hal ini tentu berdampak pada kualitasnya. Penyimpanan di gudang konvensional, menurut Indra, menyebabkan tingginya penyusutan karena bawang merah merupakan komoditas yang cepat rusak kalau tidak disimpan di dalam penyimpanan yang memadai. Berkurangnya pasokan kemudian menyebabkan kurang stabilnya harga bawang merah sepanjang tahun.
 
"Kementerian Perdagangan sebelumnya menyebut pasokan bawang merah akan meningkat, mudah-mudahan ini akan menurunkan harga. Tetapi kita juga harus mewaspadai kebijakan nontarif yang menyebabkan pasokan bawang merah dari negara lain menjadi lebih mahal untuk Indonesia," tambahnya.
 
Kementerian Perdagangan juga menyatakan penurunan harga mungkin akan terus berlanjut karena masuknya musim panen bawang merah. "Indonesia memenuhi kebutuhan bawang merah melalui pasar domestik dan hal itu terlihat dari belum keluarnya izin impor sejak 2020," imbuh Indra.
 
Dengan tingkat produktivitas mencapai 99,26 kuintal per hektare (ha), Indonesia menghasilkan 1,8 juta ton komoditas hortikultura ini di 2020, atau 15 persen lebih tinggi dari produksi di tahun sebelumnya. Selain perlunya pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan dan pelabuhan, peningkatan investasi cold storage di Indonesia tidak saja akan dapat menstabilkan harga, tetapi juga mempertahankan kualitas bawang merah.
 
Dengan diperbolehkannya investasi 100 persen pada cold storage oleh Penanaman Modal Asing (PMA), diharapkan adanya peran swasta yang lebih besar.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif