Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM
Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM

RI Bisa Belajar dari Malaysia Kelola Lapangan Migas Tua

Ekonomi migas skk migas
Suci Sedya Utami • 25 November 2020 07:39
Jakarta: Tenaga Ahli Komisi Pengawas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Nanang Abdul Manaf mengatakan Indonesia bisa belajar dari negara tetangga seperti Malaysia dalam mengelola lapangan-lapangan yang telah berusia tua.
 
Nanang mengatakan kendati lapangan migas di Malaysia terbilang lama namun produktivitasnya masih tetap terjaga. Kendati pernah mengalami penurunan (decline) produksi, tetapi selanjutnya bisa ditingkatkan.
 
Menurut Nanang hal ini karena Malaysia berhasil menerapkan kebijakan yang tepat dan efektif di sektor hulu migas. Reformasi kebijakan yang dilakukan negara tersebut berdampak positif pada aktivitas produksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dampak kebijakan Malaysia kalau kita lihat produksinya terus meningkat, padahal sama-sama lapangan yang dihadapi adalah lapangan tua," kata Nanang, dalam sebuah grup diskusi virtual, Selasa, 24 November 2020.
 
Padahal, kata Nanang, lapangan migas di Malaysia hanya berada di tiga wilayah yakni Peninsula, Serawak, dan Sabang. Namun produksi migas Malaysia lebih tinggi dari Indonesia. Mantan Direktur Utama PT Pertamina EP ini mengatakan terdapat empat hal yang menjadi kunci keberhasilan Malaysia dalam mengelola migas.
 
Pertama meningkatkan iklim investasi sehingga menjadi stabil. Ia bilang iklim investasi yang stabil didukung oleh implementasi yang kuat terhadap penerapan kontrak secara konsisten telah membuktikan kemampuan negara dalam menyeimbangkan kepentingan negara dan investor.
 
Kedua menerapkan tata kelola migas yang jelas. Nanang mengatakan meskipun ada Petronas yang bertindak seperti Pertamina sebagai operator, namun juga merangkap menjadi Malaysia Petroleum Management (PMP) seperti SKK Migas.
 
"Tapi mereka clear ketika mereka pekerja Petronas ditempatkan di MPM maka mereka bekerja sebagai seorang MPM me-manage kegiatan KKKS. Tapi ketika mereka kembali ke Petronas mereka juga profesional sebagai operator. Sehingga jelas tata kelolanya dan itu yang selalu jadi issue oleh KKKS," ujar Nanang.
 
Ketiga transformasi ekonomi dengan memfokuskan pada mengidentifikasi secara fokus hal-hal yang perlu dikembangkan dan bagaimana pemberian insentif dapat mendorong industri migasnya.
 
Keempat reformasi kebijakan fiskal. Nanang mengatakan pemahaman yang baik terhadap kebutuhan investor menghasilkan kebijakan fiskal yang efektif karena memang semata-mata memecahkan sesuatu yang menjadi masalah investor. Misal untuk mengembangkan marginal field, Malaysia melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan investor.
 
"Artinya obatnya itu pas, ketika kita punya masalah dan di-address dengan solusi yang tepat akan terjadi yang namanya efektif," tutur dia.
 
Kemudian penerapan sliding scale recovery untuk profit sharing split. Ini juga meningkatkan keamanan bagi investor, misalnya ketika harga minyak naik akan terjadi sharing gain. Sedangkan ketika harga minyak turun maka harus ada sharing pain.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif