Ilustrasi dampak La Nina ke lahan pertanian - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi dampak La Nina ke lahan pertanian - - Foto: MI/ Ramdani

Kementan Antisipasi Dampak La Nina ke Lahan Pertanian

Ekonomi ketahanan pangan Kementerian Pertanian fenomena alam
Antara • 31 Oktober 2020 18:51
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah program untuk mengantisipasi dampak fenomena alam La Nina terhadap lahan pertanian. Pasalnya, La Nina mengakibatkan peningkatan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia yang mayoritas merupakan sentra pertanian.
 
"Kami menyiapkan beberapa program skala nasional antara lain penggunaan teknologi biopori, pemanfaatan pompa air pada lokasi terdampak banjir, normalisasi saluran air, sarana pengaliran penampung air, dan asuransi usaha tani padi untuk antisipasi kerugian pada lahan terdampak banjir," kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan Edy Purnawan dikutip dariAntara, Sabtu, 31 Oktober 2020.
 
Menurutnya petani akan banyak menemui kendala dan tantangan di musim penghujan meskipun kebutuhan air tercukupi. Hal ini dikarenakan padi memang merupakan tanaman yang memerlukan air, tetapi bukan tanaman air.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, musim hujan juga seringkali menyulitkan petani karena Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berkembang lebih banyak sehingga memperparah kerusakan tanaman.
 
"Dampak fenomena La Nina akan memberikan banyak pengaruh pada tanaman padi dibandingkan kondisi musim hujan yang biasanya," terang dia.
 
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kalimantan Barat Yuliana Yulinda menjelaskan budi daya tanaman di musim kemarau maupun di musim penghujan sama-sama memiliki risiko gagal panen. Perbedaannya, kata dia, terletak pada faktor penyebabnya.
 
"Jika di musim kemarau biasanya disebabkan karena kurangnya pasokan air, sementara kalau di musim penghujan disebabkan karena kelebihan air, di mana curah hujan tinggi tentunya akan menyebabkan kelembaban yang tinggi dan kondisi ini sangat mendukung populasi hama meningkat dan tingkat keparahan penyakit menjadi lebih tinggi," kata Yuliana.
 
Untuk mengantisipasi hal tersebut, UPT Perlindungan TPH Kalbar bersama seluruh petugas POPT telah melakukan beberapa hal sebagai tindakan antisipasi. Antara lain pertama monitoring dan evaluasi kondisi iklim, baik itu melalui kerja sama dengan BMKG, SMPK maupun dari hasil pengamatan AWS yang kemudian dipadukan dengan analisis peramalan OPT.
 
Kedua, koordinasi dengan instansi terkait untuk memetakan daerah sentra hortikultura yang rawan terkena dampak perubahan iklim dan tindakan pengendalian yang dapat dilakukan bersama.
 
Ketiga, pemantauan perkembangan OPT secara intensif untuk mengetahui perkembangan OPT sebagai dasar tindakan pengendalian yang dilakukan. Keempat, bimbingan kepada para petani untuk melakukan penyesuaian kultur teknis budidaya sebagai upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, seperti penggunaan varietas toleran, pengaturan jarak tanam, sanitasi lingkungan, perbaikan drainase, pemupukan dengan dosis yang tepat serta pemanfaatan agensia hayati dalam pengendalian OPT.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif