Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Ekonomi Digital di Daerah Tidak Merata karena Faktor Infrastruktur

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi infrastruktur Ekonomi Digital
Nia Deviyana • 29 November 2021 19:17
Jakarta: Pemerintah terus mendorong percepatan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi digital hingga ke pelosok daerah melalui pembangunan infrastruktur serta sumber daya manusia (SDM), salah satunya melalui program kemitraan dengan pihak swasta.
 
Google, Temasek, dan Bain dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2021 memperkirakan, nilai ekonomi digital Indonesia sebesar USD70 miliar atau Rp997 triliun tahun ini. Nilai tersebut diprediksi melonjak menjadi USD146 miliar atau sekitar Rp2.080 triliun pada 2025.
 
Di sisi lain, pada 2020 investasi digital yang masuk ke Indonesia mencapai Rp60 triliun, sekaligus menjadi yang terbesar di ASEAN, namun sebagian masih terpusat di Jabodetabek dan Bandung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menanggapi hal ini ini, Ketua Tim Pelaksana Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir tidak menampik hal tersebut. Ia pun mengatakan kalau dilihat secara keseluruhan market value Indonesia yang mencapai USD44 miliar merupakan yang terbesar di ASEAN. Namun bila dilihat ekonomi digital per kapita, Indonesia menduduki urutan ke-4.
 
"Ini artinya, secara inklusif ekonomi digital baik per kapita mupun per daerah tidak merata. Penyebabnya infrastruktur," kata Iskandar dalam webinar Regional Summit 2021 bertajuk Kolaborasi Tumbuhkan Ekonomi Digital di Daerah, Senin, 29 November 2021.
 
Merujuk Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) menurut provinsi, DKI Jakarta merupakan yang tertinggi dengan angka 7,27 dibanding sejumlah wilayah lainnya. Demikian pula dengan penetrasi internet yang mencapai 73,7 persen rata-rata pengguna terkonsentrasi di Jawa.
 
Lalu, masalah SDM di mana kaum milenial dengan pendidikan tinggi di bidang IT lebih banyak tinggal di wilayah Jawa atau Jabodetabek, sehingga ini turut menyebabkan perkembangan investasi dan digital ekonomi banyak terpusat di kawasan tersebut. Maka dari itu, perlu tim percepatan ekonomi digitalisasi di daerah.
 
Untuk mendorong pemerataan pertubumbuhan ekonomi digital hingga ke daerah, kata Iskandar, pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), seperti Palapa Ring. Kemudian pembangunan Base Transceiver Station (BTS), baik di daerah terpencil yang didanai dari pemerintah maupun yang bekerja sama dengan provider internet swasta.
 
"Berikutnya, dari sisi SDM, kami terus mempercepat pengembangan digital talent yang diharapkan bisa menciptakan sembilan juta talenta digital 15 tahun terakhir," kata Iskandar.
 
Guna mempercepat target ini, menurutnya, sudah ada sejumlah cara yang dikakukan pemerintah mulai dari membentuk program digital leadership academy, siber kreasi dan talenta digital yang nantinya akan dikembangkan dengan mitra pengembangan talenta bersama universitas terkemuka dunia dan mitra perusahaan swasta seperti Google, Oracle, Microsoft dan sebagainya.
 
"Ada 116 mitra kita yang terdiri dari akademisi, pekerja seni, perusahaan teknologi dan platform media sosial atau digital lainnya," pungkasnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif