Penandatanganan SKP lahan antara PT TTI dengan PT Kawasan Industri Kendal (KIK). Foto Istimewa.
Penandatanganan SKP lahan antara PT TTI dengan PT Kawasan Industri Kendal (KIK). Foto Istimewa.

Bertransformasi Jadi Produsen Ubin Keramik, Perusahaan Ini Investasi Rp1,2 Triliun

Husen Miftahudin • 29 Mei 2022 18:44
Jakarta: Forum Suplier Bahan Bangunan Indonesia (FOSBBI) mengapresiasi langkah PT Trust Trading Indonesia (TTI) yang akan segera bertransformasi menjadi produsen keramik. Kepastian tersebut didapatkan setelah dilakukan penandatanganan Surat Konfirmasi Pembelian (SKP) lahan antara PT TTI dengan PT Kawasan Industri Kendal (KIK).
 
PT TTI merencanakan investasi sebesar Rp1,2 triliun yang mencakup pembelian lahan seluas 15,6 hektare (ha) yang pada tahap awal akan diproyeksikan untuk pembangunan fasilitas produksi ubin keramik sebanyak tiga line di area seluas 12,1 hektare dan selanjutnya tambahan lahan seluas 3,5 hektare akan diproyeksikan untuk satu line produksi dengan total kapasitas produksi tahunan direncanakan sebesar 18 juta meter persegi dan diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 700 orang. Pembangunan pabrik akan dimulai pada akhir tahun ini dan diproyeksikan akan berproduksi pada 2024.
 
Plt. Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito yang hadir dalam acara penandatanganan tersebut menyatakan bahwa inisiasi PT TTI untuk investasi merupakan harapan yang ditunggu pemerintah dalam rangka mendukung program substitusi impor sebesar 35 persen, dengan mengoptimalkan pasar dalam negeri dengan produk-produk industri dalam negeri.
 
"Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah yakni Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)," kata Warsito dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 29 Mei 2022.
 
Langkah konkret dari PT TTI melakukan investasi dalam rangka transformasi dari importir menjadi produsen ubin keramik nasional juga diharapkan dapat menginspirasi investor lainnya untuk dapat menanamkan investasinya dan menjadi bagian dari pelaku industri dalam usaha peningkatan daya saing industri ubin keramik dalam negeri.
 
"Dalam hal mendukung peningkatan iklim investasi, Pemerintah Indonesia memberikan fasilitas kebijakan fiskal berupa insentif Tax Holiday, Tax Allowance, serta penerapan SNI dan SKKNI," paparnya.
 
Menurut dia, adanya rencana investasi pembangunan pabrik ubin keramik oleh PT TTI dengan proyeksi kapasitas produksi per tahun sebanyak 18 juta meter persegi dapat mereduksi proporsi ubin keramik impor sebesar 3,77 persen dari permintaan domestik ubin keramik nasional.
 
Sementara itu, industri ubin keramik Indonesia dalam rentang waktu 2016-2020 sempat mengalami penurunan utilisasi ditambah dengan situasi pelambatan ekonomi global akibat pandemi covid-19 yang berakibat utilisasi ubin keramik turun menjadi 56,5 persen pada 2020.
 
"Kondisi pandemi covid-19 membuat pemerintah perlu mengupayakan strategi khusus yang komprehensif dalam rangka perlindungan dan keberlangsungan iklim usaha industri ubin keramik nasional," jelas Warsito.
 
Strategi pemulihan daya saing industri ubin keramik yang paling berdampak signifikan adalah dengan menetapkan relaksasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri sebesar USD6 per MMBTU melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.K/HK.02/MEM.M Tahun 2021.
 
Kebijakan ini dilatar belakangi oleh menurunnya utilisasi industri ubin keramik nasional selama limatahun kebelakang yang disebabkan oleh harga gas bumi sebesar USD9 per MMBTU dimana biaya energi berkontribusi sebanyak 30 persen dalam struktur biaya produksi.
 
"Hadirnya pemerintah dalam bentuk regulasi relaksasi HGBT yang dimanfaatkan oleh industri salah satunya produsen ubin keramik memiliki dampak positif untuk mengefisiensikan biaya operasional di tengah pandemi covid-19," urai dia.
 
Sesuai dari arahan Presiden bahwa ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang diharapkan untuk bisa tumbuh di atas lima persen dan bagaimana Indonesia bisa pulih dari pandemi covid-19, ungkap Warsito, maka yang akan bisa menjadi pendorong salah satunya adalah peningkatan dari investasi.
 
Karena itu, pada 21 Mei 2022 telah dilakukan penandatanganan perjanjian pra-kontrak antara PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Subholding Gas PT Pertamina (Persero) dengan Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) untuk menyediakan pasokan gas dan pembangunan infrastruktur gas bumi. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari upaya untuk memberikan kepastian kepada calon investor di KIK atas jaminan ketersediaan pasokan gas bumi.
 
"Dengan demikian langkah tersebut sejalan dengan pelaksanaan kebijakan HGBT. Dalam hal ini Kemenperin akan mengawal supaya nantinya PT TTI juga bisa mendapatkan kesempatan untuk memanfaatkan kebijakan HGBT," pungkas Warsito.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif