NEWSTICKER
Pertamina. Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay.
Pertamina. Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay.

Pertamina Pastikan Proyek Hulu-Hilir Tak Terganggu Korona

Ekonomi pertamina virus corona
Suci Sedya Utami • 19 Maret 2020 18:35
Jakarta: PT Pertamina (Persero) memastikan pengerjaan proyek-proyek infrastruktur di sektor hulu maupun hilir tetap berjalan di tengah kekhawatiran virus korona (covid-19) di Tanah Air.
 
VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman tidak menampik jika terdapat kendala untuk membawa pasokan atau material yang berasal dari negara-negara yang juga terjangkit korona.
 
Namun, Fajriyah bilang tim Pertamina telah menyiapkan business continuity program (BCP) agar semua tetap berjalan dengan baik. Misalnya dengan mencari bahan baku material dari negara lain.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pada dasarnya semua proyek tetap berjalan, namun memang supply yang dari negara-negara status merah untuk korona pasti akan ada kendala atau delay," kata Fajriyah, Kamis, 19 Maret 2020.
 
Dirinya mengatakan tim operasional Pertamina dari hulu hingga hilir, dari kilang hingga distribusi tetap bekerja secara normal untuk menyelesaikan proyek. Fajriyah bilang perseroan juga memperketat mitigasi dan risiko yang timbul sehingga jika ada kendala dampaknya bisa diminimalisir.
 
Lebih lanjut Fajriyah menambahkan dampak dari pandemi korona baru akan terlihat pada Mei. Sebab, saat ini Pertamina masih tetap mencari solusi dan cara agar semua bisnis bisa tetap berjalan normal.
 
Adapun salah satu proyek hulu Pertamina yang tetap berjalan pengerjaannya di tengah korona yakni proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) yabg terletak di Wilayah Kerja Cepu, Bojonegoro. Proyek tersebut dikerjakan oleh anak usaha Pertamina, PT Pertamina EP Cepu (PEPC).
 
PEPC memastikan proyek JTB tetap akan beroperasi (onstream) pada Juli 2021. Sehingga keinginan bisa memasok gas ke Jawa Timur bisa tercapai. PEPC sebagai operator dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menyatakan bahwa penyebaran wabah korona (covid-19) di tahan air tidak akan menghambat target tersebut.
 
Presiden Direktur PEPC Jamsaton Nababan mengatakan saat ini progres pengerjaan proyek JBT telah mencapai 56 persen dan masih tersisa 44 persen untuk mencapai target onstream kurang lebih 1,5 tahun mendatang.
 
Sementara untuk pembangunan fasilitas gas atau gas processing facility (GPF) dalam proyek JTB saat ini progresnya mencapai 54,94 persen. Hingga akhir tahun ini pembangunan GPF diperkirakan akan mencapai 94 persen, sementara secara keseluruhan proyek diramal akan mencapai 92 persen.
 
Memang, menurut Jamsaton ada keterlambatan atau delay 0,4 persen. Namun, hal tersebut merupakan sesuatu yang normal dalam pengerjaan proyek. Keterlambatan tersebut salah satunya diakibatkan oleh cuaca.
 
Jamsaton mengatakan di tengah curah hujan yang sangat tinggi memang menjadi salah satu problem dalam pengerjaan proyek tersebut. Namun, hal ini bisa diatasi dengan kerja sama antara PEPC dan PT Rekayasa Industri (Rekind) dalam proyek JTB dengan memasang sembilan pompa untuk menyedot air atau genangan saat hujan.
 
Sementara dari sisi merebaknya virus covid-19, Jamsaton mengatakan pihaknya bergerak cepat untuk memindahkan pabrik material yang sebelumnya berada di wilayah yang terserang korona.
 
Ia mengakui memang ada pabrikan meterial bahan baku yang di Wuhan, Tiongkok yang diduga menjadi wilayah pertama merebaknya virus korona. Untuk mengantisipasi keterlambatan material, maka pabrikan dipindahkan dengan menggunakan milik PT Barata Indonesia (Persero).
 
"Proyek on the track kami berkomitmen Juli 2021 bisa onstream," kata Jamsaton dalam virtual conference bersama media, Kamis, 19 Maret 2020.
 
Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Rekind Yanuar Budinorman mengatakan dalam dua bulan ke depan yakni April dan Mei pihaknya bersama PEPC akan mengejar ketertinggalan 0,4 persen tersebut dengan melakukan langkah-langkah percepatan di lapangan. Salah satunya yakni dengan penambahan tenaga kerja.
 
Yanuar mengatakan untuk dua bulan ke depan ada penambahan sekitar 500-1.000 pekerja yang memang disesuaikan dengan rencana kerja. Tenaga kerja yang digunakan pun, dia memastikan tidak ada dari asing terlebih dari Tiongkok.
 
"Semua lokal dan itu terdiri dari karyawan PEPC, Rekind, daerah setempat dan lain-lain," ujar Yanuar.
 
Dirinya pun mengatakan di tengah isu korona, perusahaan lebih proaktif untuk memastikan kondisi tenaga kerja di lapangan dengan menyediakan tenaga medis serta memberikan suplemen seperti vitamin dan makanan yang bergizi. Hingga saat ini belum ada tenaga kerja di proyek tersebut yang terinefeksi oleh korona.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif