Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat memegang buah mangga. FOTO: dok Kementan
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat memegang buah mangga. FOTO: dok Kementan

Musim Mangga, Bisnis Fruit Leather Bisa Jadi Pilihan

Ekonomi pertanian Kementerian Pertanian mangga
Ilham wibowo • 23 Oktober 2020 11:18
Jakarta: Memasuki puncak musim buah mangga peningkatan nilai tambah bisa sangat potensial untuk memaksimalkan pendapatan dari hasil panen. Metode fruit leather atau produk olahan buah semi basah/kering berbentuk lembaran tipis bisa dipilih sebagai alternatif bisnis baru.
 
Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Ermi Sukasih mengatakan fruit leather sudah menjadi tren dikonsumsi negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa sebagai pengganti porsi harian buah. Komoditas buah mangga pun sangat cocok sebagai bahan baku lantaran punya tingkat konsistensi khas untuk diolah.
 
"Fruit leather digolongkan sebagai snack yang ideal untuk memenuhi permintaan konsumen akan kandungan vitamin dan serat yang tinggi serta dapat dikonsumsi berbagai kalangan usia," ujar Ermi, melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 23 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain nilai tambah, fruit leather juga bisa mengantisipasi kejatuhan harga jual mangga lantaran hanya melimpah serentak di musim tertentu. Pengolahan mangga dengan mengurangi kandungan air sekitar 10-17 persen bisa memperpanjang waktu simpan setelah panen tanpa mengurangi kandungan serat dan nutrisi yang terkandung.
 
"Pemanfaatan aplikasinya pun sangat luas dan masih memiliki tren yang cukup baik hingga sepuluh tahun ke depan sebagai produk sehat dan alami atau natural, sehingga diharapkan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia,” tuturnya.
 
Lebih lanjut, Ermi menerangkan pembuatan fruit leather cukup mudah dengan hanya bermodal blender, alat masak anti lengket dan pengering tipe lorong untuk mengeringkan adonan. Fruit leather bisa berasal dari puree buah atau dengan tambahan bahan penunjang seperti gula, asam sitrat, mentega, perisa, pewarna, pengawet, dan tambahan serat pangan.
 
"Penggunaan pengawet harus sesuai aturan dan pengemasan bisa menggunakan kemasan vakum, MAP dan penambahan silika gel. Produk yang sudah dikemas juga harus disimpan dengan cara yang benar agar memiliki daya simpan sekitar satu tahun dan disimpan pada suhu ruang," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif