Menteri BUMN Erick Tohir. Foto : MI.
Menteri BUMN Erick Tohir. Foto : MI.

Nilai Pasar Pertamina Ditargetkan USD100 Miliar di 2024

Ekonomi BUMN Pertamina Erick Thohir
Annisa ayu artanti • 11 September 2021 16:50
Jakarta: Pemerintah menargetkan PT Pertamina (Persero) memiliki nilai pasar mencapai USD100 miliar dan menjadi Global Energy Champion di 2024. Target tersebut seiring dengan dituntaskannya proses restrukturisasi.
 
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan selama delapan bulan terakhir Kementerian BUMN terus melakukan transformasi, termasuk restrukturisasi di tubuh Pertamina.
 
Erick mengungkapkan ia telah menyampaikan hal tersebut kepada Presiden Joko Widodo. Jokowi pun berharap Pertamina dapat meningkatkan pelayanan publik dan membangun ekosistem supaya bisa bersaing dan mendorong value added.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Buktikan kepada dunia, Indonesia juga bisa punya perusahaan yang valuasi-nya mencapai USD100 miliar. Kita bisa, dan saya yakin legacy ini untuk kita semua. Saya memastikan transformasi akan tetap berjalan, karena ini bagian terpenting buat kita sebagai bangsa besar. Tidak mungkin kita akan terus menjadi bangsa besar kalau tidak ada ketahanan energi," kata Erick dikutip dalam keterangan tertulis, Sabtu, 11 September 2021.
 
Sementara itu Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menuturkan transformasi yang dijalankan Pertamina dilakukan melalui pembagian anak usaha menjadi subholding.
 
"Bagaimana cara kita melaksanakan? Kita membagi kapal besar Pertamina dengan membuat enam kapal-kapal kecil yang kita sebut subholding,” ujar Nicke.
 
Ia menyebutkan tiga subholding yakni subholding upstream, subholding refining & petrochemical dan subholding commercial & trading harus tetap menjalankan tugas saat ini, karena Pertamina mempunyai amanah sesuai Undang-Undang Energi yakni menjaga kehandalan atau availability, accessibility, affordability, acceptability dan sustainability.
 
Sementara itu, lanjut Nicke subholding gas akan bergerak ke tengah untuk mengelola energi transisi dari fosil fuel ke new and renewable energy yakni gas dengan porsi dalam bauran energi tetap di angka 22-25 persen.
 
Menurutnya, dengan peningkatan demand energi lima kali lipat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, maka porsi gas harus ditingkatkan. Saat ini, Pertamina memiliki pipa gas sepanjang 24 ribu kilometer dan terpanjang di Asia Tenggara.
 
Adapun untuk subholding power & NRE telah bergerak menuju energi terbarukan. Nicke menuturkan, saat ini pemerintah telah mulai mengintegrasikan geothermal yang nantinya akan menjadi kapasitas terpasang ketiga terbesar di dunia. Kedepan, Pertamina akan mengintegrasikan antara hulu Geothermal dengan hilir yakni Petrokimia.
 
Sedangkan untuk mendukung kelima Subholding tersebut, Pertamina memiliki Subholding Integrated Marine Logistic.
 
“Subholding ini harus ada di masa kini, di masa transisi dan di masa depan. Harus selalu relevan, karena Indonesia adalah negara kepulauan. Apapun energinya, kita tetap membutuhkan transportasi laut. Bahkan, sekarang Integrated Marine Logistic ini mulai bergerak ke arah virtual pipelines,” jelasnya.
 
Lebih lanjut untuk menjawab keraguan mengenai pemisahan subholding, Nicke menyebutkan kuncinya adalah integrasi yang dilakukan oleh holding dalam hal operasional dan komersial serta mengawasi tugas-tugas yang diberikan oleh negara. Sehingga, Pertamina sebagai holding akan tetap ramping dengan fungsi integrasi.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif