Tambang Freeport. FOTO: MI AGUS MULYAWAN
Tambang Freeport. FOTO: MI AGUS MULYAWAN

Covid-19 Hambat Pembangunan Smelter Freeport

Ekonomi freeport
Suci Sedya Utami • 16 Mei 2020 08:41
Jakarta: Pandemi covid-19 yang terjadi di Tanah Air menghambat pembangunan sejumlah pembangunan berbagai proyek, tidak terkecuali pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) PT Freeport Indonesia (PTFI).
 
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau MIND ID Orias Petrus Moedak yang merupakan wakil Pemerintah Indonesia dalam kepemilikan saham mayoritas di PTFI. Orias menggunakan proyek tersebut berpotensi tertunda.
 
Ia bilang penundaan terjadi lantaran pekerja kontraktor yang mengerjakan proyek pembangunan smelter terhambat mobilitasnya di lapangan. Di sisi lain, terhambatnya pembangunan smelter ini juga lantaran suplier komponen terkendala akibat adanya pembatasan di sejumlah negara termasuk Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Orias mengatakan perusahaaan tambang yang beroperasi di Papua itu mengajukan penundaan pembangunan smelter yang berlokasi di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). "Mereka mengajukan ada penundaan. Ini kan berlaku umum. Bukan untuk Freeport saja, kontraktor kan juga susah ke lapangan," kata Orias, Jumat, 15 Mei 2020.
 
Dirinya menyatakan PTFI telah mendapatkan kesepakatan terkait pendanaan untuk proyek tersebut dari sembilan bank dengan nilai USD2,8 miliar. Namun dana tersebut belum digunakan lantaran akan dilakukan penjadwalan ulang untuk pembangunannya.
 
Sebelumnya Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan smelter di JIIPE nantinya akan memproses 60 persen konsentrat hasil produksi PTFI. Sementara 40 persennya telah diolah di smelter milik kerja sama antara PTFI dan Mitshubishi Materials Corporations yang sudah beroperasi sebelumnya yakni PT Smelting.
 
Tony mengatakan target operasional full dari smelter yang sedang dibangun yakni kuartal empat 2023. Ia bilang saat ini progres pembangunan fasilitas tersebut telah dilakukan front end engineering desain (FEED) mencapai 100 persen, kemudian pemadatan yang akan dikebut penyelesaiannya dalam dua bulan ke depan dan setelahnya masuk ke konstruksi fisik.
 
"Konstruksi fisik mulai dilakukan penanganan tiang dan sebagainya akan memakan waktu kira-kira 27 bulan prosesnya," ujar Tony.
 
Tony mengatakan jumlah karyawan tetap saat smelter tersebut telah rampung yakni mencapai 500 orang yang menurut dirinya akan diutamakan berada dari putra daerah setempat. Sementara saat pembangunan konstruksi akan melibatkan 10 ribu hingga 12 ribu orang.
 
Lebih lanjut dia mengatakan smelter tersebut akan menggunakan teknologi outotec dengan pemurnian lumpur katoda menggunakan hydrometallurgy.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif