Gedung Pertamina. FOTO: Setkab
Gedung Pertamina. FOTO: Setkab

Strategi Pertamina Tekan Biaya Sewa Kapal BBM saat Pandemi

Ekonomi pertamina Virus Korona
Suci Sedya Utami • 29 September 2020 08:16
Jakarta: PT Pertamina (Persero) menyatakan di masa pandemi biaya sewa kapal untuk mengangkut pasokan BBM naik empat kali lipat. Pertamina tetap mengoperasikan kapal-kapal tersebut dengan cara floating meskipun stok BBM berlebih namun konsumsi mengalami penurunan.
 
Direktur Logistik dan Infrastruktur Pertamina Mulyono mengatakan apabila Pertamina menyetop sewa kapal, maka pemilik kapal di Indonesia akan bangkrut. Oleh karena itu, kata Mulyono, Pertamina tetap mengoperasikan kendati harga sewanya untuk kapal dengan kapasitas 300 ribu-400 ribu ton meningkat dari USD30 ribu per hari menjadi USD150 ribu.
 
Dia bilang untuk menekan biaya kenaikan tersebut Pertamina meminta pada pemilik kapal agar pembayarannya bisa menggunakan asumsi yang dipatok dalam Rancangan Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar Rp14.400 per USD. Sebab biaya sewa dihitung berdasarkan USD, namun dibayarkan menggunakan rupiah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pada saat kurs Rp16 ribu saya minta kesadaran pemilik, kapalmu saya pakai, tidak saya putus tapi tolong ya disewa dengan kurs Rp14.400. Dari itu, Pertamina mendapat penghematan hampir Rp2 triliun," kata Mulyono, dalam pelatihan media, dikutip Selasa, 29 September 2020.
 
Selain itu, untuk menekan biaya, Pertamina juga meminta agar kecepatan kapal diturunkan. Biasanya, kata Mulyono, Pertamina menggunakan service speed dengan kecepatan 10-12 knot. Ia bilang dengan kondisi pasokan yang berlebih jika tetap menggunakan kecepatan tersebut, maka ketika sampai di depot kapal harus menunggu karena tangkinya masih terisi.
 
Akhirnya seluruh kapal yang beroperasi diturunkan dengan kecepatan delapan knot. Dengan penurunan kecepatan ini pun berimbas pada penghematan penggunaan BBM hingga 25 persen.
 
"Kami dapat USD80 juta karena menurunkan kecepatan kapal. Diturunkan juga supaya sampai depot nanti sudah pas, sudah ada ruang muatnya, jadi tidak lama-lama parkir. Sebab kalau lama menunggu bayar parkirnya juga lama," tutur Mulyono.
 
Lebih lanjut, Mulyono menambahkan selama pandemi penjualan BBM Pertamina terjun bebas dan membuat pasokan BBM di depot berlebihan. Ia bilang biasanya Pertamina diminta bagaimana agar pasokan di depot tidak kosong, namun dalam kondisi saat ini terbalik yakni bagaimana agar tangki tidak penuh.
 
Pada Juni, stok premium bahkan tahan hingga 38 hari. Padahal di waktu normal cukup sampai 20 hari. Solar pun demikian hingga 31 hari. Bahkan yang paling parah padahal avtur yang konsumsinya turun hingga 90 persen
 
"Bisanya 500 ribu kilo liter (KL) per bulan penjualannya, kemarin di bawah 100 KL di April sangat rendah," jelas dia.
 
Ia menambahkan, Pertamina tidak memilik opsi untuk mengurangi stok atau dipaskan dengan penurunan konsumsi saat ini. Sebab, sebagian stok berasal dari impor, dan banyak negara yang melakukan lockdown. Apabila dipaskan stoknya di 20-25 hari, sedangkan masih impor ditakutkan nantinya akan ada kekurangan jika sewaktu-waktu dibutuhkan pasokan yang besar.
 
"Memang kami enggak bisa turunkan stok secara tergesa-gesa karena kami juga harus lihat kondisi ini, kita masih impor tapi banyak negara lockdown jadi enggak bisa," pungkas dia.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif