Ilustrasi. Foto: AFP
Ilustrasi. Foto: AFP

PTPN III Segera Babat Pohon Karet untuk Peningkatan Produksi Gula

Ekonomi gula karet ptpn
Ilham wibowo • 19 Oktober 2020 17:46
Jakarta: PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) III Holding berencana segera memangkas ribuan hektare (ha) lahan karet untuk kebutuhan pengembangan pohon tebu sebagai bahan baku gula. Konversi produk pertanian tersebut dilakukan mengingat kebutuhan gula lebih strategis.
 
Direktur Utama PTPN III Holding Mohammad Abdul Ghani mengatakan bahwa kontribusi komoditas karet sebagai penghasil devisa negara kian berkurang dalam lima tahun terakhir. Kebijakan mengganti lahan karet menjadi tebu pun telah dimasukkan dalam peta jalan program ketahanan pangan dan energi nasional.
 
"Kami akan mengurangi tanaman karet yang secara total 146 ribu ha, kami kurangi menjadi 80 ribu ha, sisanya kami akan konversi ke gula karena kami akan fokus," kata Ghani dalam webinar MarkPlus Roundtable: Pemulihan Ekonomi di Sektor Pertanian, Senin, 19 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi gula di Tanah Air, kata dia, sejauh ini masih tercatat cukup memprihatinkan lantaran defisit antara konsumsi dan produksi. Dari 6,3 juta ton kebutuhan gula baik industri maupun konsumsi per tahun, empat juta ton di antaranya diperoleh melalui impor.
 
"Menurut saya lebih penting kita mengurangi defisit dari gula, kalau gula itu segi politik dan strategisnya lebih besar dari karet dan kami sebagai BUMN berkomitmen terhadap tujuan BUMN sebagai alat negara dalam menjalankan fungsi perekonomian," ungkapnya.
 
Fokus peningkatan produksi gula juga dilakukan lantaran perusahaan pelat merah tersebut hanya mampu menghasilkan gula satu juta ton per tahun. Menurut Ghani, kesempatan BUMN untuk tumbuh mendominasi pasar gula dalam negeri juga masih cukup sulit lantaran hanya diberikan kesempatan satu persen dalam pengelolaan impor raw sugar secara keseluruhan.
 
"Barangkali kebijakan ke depan bagaimana supaya BUMN itu diberikan proteksi untuk kesempatan dia tumbuh bergerak dan berkembang ke depan dengan diberikan alokasi impor raw sugar agar bisa kompetitif. Sekarang ini tidak adil, dari produksi kami 54 persen tapi impor yang diserahkan kepada BUMN hanya satu persen," paparnya.
 
Ghani menambahkan bahwa konversi komoditas karet ke tebu tersebut ditargetkan bisa meningkatkan pemasaran gula domestik hingga 10 kali lipat atau setara 400 ribu ton per tahun ke pasar ritel. Lahan negara yang produktivitasnya masih bisa ditingkatkan juga akan difokuskan pada penambahan areal tanam tebu.
 
"Luas lahan tebu kami yang sekarang hanya 55 ribu ha dalam lima tahun akan naik 110 ribu ha. Kemudian kami kerja sama dengan perhutani menanam tebu di kawasan kehutanan sosial dan sinergi BUMN yang lain akan membantu pemerintah swasembada gula," ujarnya.

 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif