Gedung Phapros. FOTO: Phapros
Gedung Phapros. FOTO: Phapros

Phapros Gandeng 20 Pondok Pesantren Edukasi Pencegahan Stunting

Angga Bratadharma • 21 Oktober 2021 17:57
Sidoarjo: PT Phapros Tbk menggandeng 250 santri dari 20 pondok pesantren serentak di wilayah Sidoarjo dan Gresik untuk melakukan edukasi pencegahan stunting dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021. Edukasi pencegahan stunting ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan dan kesehatan.
 
Acara yang dihadiri di lokasi berbeda oleh Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor Ali dan Wakil Bupati Gresik Aminatun Habibah, Direktur Utama Phapros Hadi Kardoko, dan Direktur Pemasaran Phapros Tri Andayani ini menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak dini, yakni dengan mengedukasi pelajar.
 
Edukasi itu yakni tentang manfaat vitamin penambah darah yang bisa membantu menekan angka gizi buruk yang disebabkan aleh Anemia atau kekurangan darah. Adapun kolaborasi dan dukungan dari pemerintah daerah serta komitmen tanggung jawab sosial industri untuk melakukan edukasi pencegahan stunting ini penting dilakukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mengingat ini adalah tantangan kita bersama sehingga dibutuhkan peran dari berbagai pihak untuk bisa menurunkan angka stunting," ujar Hadi Kardoko, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 21 Oktober 2021.
 
Anemia atau kurang darah kerap dialami remaja, khususnya remaja perempuan. Jika pada usia remaja mereka memiliki masalah kesehatan hal ini akan berdampak pada kerentanan penyakit saat mereka dewasa.  Artinya, selain terkena stunting, anak dari ibu anemia juga berisiko lebih besar untuk terkena anemia.
 
Ketika si anak yang anemia ini sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu, lahirlah lagi anak yang stunting dan kondisi anemia lainnya. "Karena itu Phapros sangat fokus dengan hal ini. Kegiatan yang dilakukan Phapros saat ini menjadi awal dari rangkaian tanggung jawab sosial terkait stunting lainnya, dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah," imbuh Hadi.
 
Sementara itu, Direktur Pemasaran Phapros Tri Andayani mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012, tercatat ada 162 juta balita stunting dan 58 persen dari jumlah tersebut berada di Asia.
 
"Penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi saat hamil hingga bayi tersebut berusia dua tahun, serta bisa berakibat pada gangguan pertumbuhan berupa tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata anak normal," ujarnya.
 
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2019 menunjukkan bahwa prevelansi stunting Indonesia sebesar 27,67 persen, meski mengalami penurunan tiga persen dibandingkan dengan di 2013 dengan angka tersebut belum mencapai standar WHO untuk stunting yang berada di bawah 20 persen.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif