Foto: dok MI.
Foto: dok MI.

Pemerintah dan Swasta Harus Berkolaborasi Tanggulangi Masalah Stunting

Ekonomi sdg stunting
Ade Hapsari Lestarini • 22 Januari 2021 13:55
Jakarta: Masyarakat perlu didorong untuk meningkatkan kesadaran terhadap konsumsi gizi bagi ibu menyusui. Ini dilakukan sebagai upaya menanggulangi stunting dan gizi buruk di tengah pandemi.
 
Selain itu, juga penting untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan dengan pihak swasta untuk menanggulangi stunting ini.
 
Salah satunya adalah dengan mengeluarkan protokol pelayanan gizi pada masa pandemi covid-19. Dalam protokol tersebut, ibu hamil akan diberikan tablet tambah darah (TTD). Sementara itu, ibu menyusui disarankan untuk melakukan inisiasi menyusui dini serta memberikan ASI ekslusif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pemerintah juga berkomitmen untuk menanggulangi stunting dengan fokus intervensi penanggulangan stunting di lebih dari 360 kabupaten/kota untuk menekan angka stunting hingga 14 persen di 2024," ungkap Kepala Sub Direktorat Pengelolaan Konsumsi Gizi, Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mahmud Fauzi, dikutip Jumat, 22 Januari 2021.
 
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (Appnia) Rivanda Idiyanto menyatakan kesiapan pelaku usaha untuk mempererat sinergi dengan pemerintah.
 
Sejauh ini, lanjut dia, anggota Appnia telah berkontribusi dalam upaya percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Serta akan terus berkomitmen mendukung upaya peningkatan status gizi dan kesehatan ibu menyusui dan anak di Indonesia.
 
"Appnia terus menjalin kerja sama yang baik dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pemenuhan akses terhadap produk nutrisi berkualitas di Indonesia, tentunya sesuai ketentuan dan regulasi yang berlaku baik di tingkat global maupun nasional," tegas Rivanda.
 
Salah satu wujud konkrit atas dukungan Appnia terhadap ASI eksklusif adalah sebagian besar perusahaan anggota Appnia telah menerapkan kebijakan cuti melahirkan bagi ibu bekerja selama enam bulan.
 
"Ini agar ibu dapat mengupayakan pemberian ASI eksklusif bagi bayinya dan juga penyediaan ruang laktasi pada seluruh kantor dan pabrik perusahaan anggota Appnia," jelasnya.
 
Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ahmad Syafiq mengatakan pemenuhan kebutuhan gizi dalam kondisi pandemi covid-19, sangat mendesak. Mengingat masih adanya tantangan peningkatan status gizi di Indonesia.
 
"Di masa pandemi, ibu menyusui perlu mendapat perhatian yang lebih demi memastikan kualitas ASI dan Kesehatan ibu selama masa menyusui," ucapnya.
 
Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Entos Zainal menggarisbawahi pentingnya kontribusi lintas sektor dari Kementerian dan Lembaga terkait dalam memperkuat intervensi gizi spesifik dan sensitif, khususnya bagi ibu menyusui.
 
"Tidak boleh ada yang dilupakan dalam masa pandemi ini, misalnya dalam bansos diberikan kepada masyarakat harus mampu mewakili pemikiran terhadap kebutuhan ibu menyusui, agar selama masa pandemi ini bisa menjadi momentum perbaikan gizi ibu menyusui dan pada akhirnya memberikan dampak ke tumbuh kembang anak," ujar Entos.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif