Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

BI: Lampung Alami Inflasi 1,20% di Juni 2022

Antara • 03 Juli 2022 18:03
Bandar Lampung: Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Lampung menyebutkan bahwa pada Juni tingkat inflasi Lampung sebesar 1,20 persen atau naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Diharapkan tingkat inflasi bisa terus terkendali guna mendukung perekonomian.
 
"Indeks harga konsumen Provinsi Lampung pada Juni mengalami inflasi sebesar 1,20 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya," ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI)  Provinsi Lampung Irfan Farulian, dilansir dari Antara, Minggu, 3 Juli 2022.
 
Ia mengatakan pada bulan sebelumnya tingkat inflasi hanya sebesar 0,59 persen dengan rata-rata inflasi dalam tiga tahun belakangan di Lampung sebesar 0,48 persen per bulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dilihat dari sumbernya, inflasi pada Juni terjadi akibat adanya peningkatan sejumlah komoditi seperti cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,57 persen, cabai rawit 0,26 persen, dan bawang merah 0,13 persen. Lalu kenaikan tarif angkutan udara 0,12 persen dan rokok kretek filter 0,05 persen," katanya.
Baca: Pemerintah Diminta Tak Terkecoh dengan Stok Beras

Dia menjelaskan kenaikan harga komoditi seperti cabai merah dan bawang terjadi akibat adanya beberapa hal seperti hama dan perubahan iklim yang mengganggu produksi. "'Inflasi yang cukup tinggi di Juni dapat ditahan oleh deflasi pada beberapa komoditas contohnya minyak goreng, bawang putih, kangkung, ikan kembung, dan angkutan antar kota," ucap dia.
 
Menurut dia, untuk nilai tukar petani di Lampung di Juni tercatat lebih rendah dari bulan sebelumnya, akibat adanya penurunan subsektor seperti tanaman pangan, perkebunan rakyat, dan perikanan tangkap atau budi daya.
 
"Inflasi ini akan tetap dijaga agar terkendali, namun ada sejumlah risiko yang perlu diantisipasi seperti risiko akibat ketidakpastian pasar keuangan global akibat konflik geopolitik," katanya.
 
Selanjutnya, adanya risiko kelompok volitile food, risiko kelompok administered price seperti salah satunya adanya kenaikan harga kedelai dan jagung yang berisiko meningkatkan biaya pakan ternak, serta peningkatan harga pupuk.
 
"Untuk mengantisipasi hal tersebut tim pengendali inflasi daerah dan satgas pangan akan memastikan keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif