Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI

Ekonom: Subsidi BBM Lebih Tepat Diberikan ke Individu

Ekonomi subsidi bbm Pertamina bbm bersubsidi Kementerian ESDM
Antara • 19 April 2022 09:15
Jakarta: Pakar Ekonomi Energi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Ardiyanto Fitrady mengatakan pemberian subsidi energi khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM) lebih tepat diberikan secara langsung ke individu dibandingkan dengan ke komoditas.
 
Apalagi, lanjutnya, data rumah tangga miskin saat ini seharusnya sudah lebih baik, sehingga dengan diberikan secara tunai maka masyarakat bisa mengalokasikan uangnya lebih fleksibel. Ia mengatakan jika subsidi diberikan ke komoditas, kemungkinan kebocoran sangat besar dan sulit dikendalikan.
 
"Kalaupun terpaksa karena sudah terlanjur ke komoditas, subsidi harus ada batasnya juga. Dengan begitu sisi keuangan pemerintah bisa menjaga alokasi budget-nya. Kalau ada yang bocor, harga berubah, misalnya, tidak akan sebesar dampaknya," ujarnya, dilansir dari Antara, Selasa, 19 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ardiyanto, menaikkan harga komoditas isunya sangat besar. Apalagi, kaitannya dengan komoditas yang digunakan banyak orang, seperti BBM maupun elpiji. Untuk itu, dia menyarankan lebih baik pemerintah memberikan subsidi langsung ke rumah tangga miskin.

Tujuan awal subsidi

Apalagi, tujuan awal subsidi adalah mengurangi beban masyarakat miskin, sedangkan masyarakat menengah ke atas tidak perlu dibantu. Dia menyebutkan BBM bukan energi terbarukan, sehingga jika disubsidi pasti akan ada kebocoran. Masyarakat akan lebih banyak membeli BBM daripada seharusnya.
 
"Ini yang dimaksud level efisien. Harusnya harga itu disesuaikan, karena kalau mahal berkurang belinya. Harga itu mencerminkan kelangkaan. Kalau langka, individu akan mengurangi konsumsi," kata dia.
 
Ardiyanto menilai tidak adanya kenaikan harga BBM sejak awal harga minyak terus meroket dari level USD90 melewati USD100 per barel merupakan bentuk itikad baik pemerintah di masa sulit akibat dampak pandemi covid-19.
 
Seharusnya, lanjut dia, badan usaha mengikuti naik turunnya harga minyak dengan melakukan penyesuaian harga BBM. Apalagi, subsidi kompensasi juga tidak gratis, namun berasal dari realokasi APBN.
 
"Itu sebenarnya bisa dikeluarkan buat yang lain, mungkin juga lebih bermanfaat untuk kesehatan dan pendidikan. Sebenarnya, kita kehilangan kesempatan mendanai program lain," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif