Ilustrasi kawasan sawah tadah hujan. (Foto: Antara/Basri Marzuki)
Ilustrasi kawasan sawah tadah hujan. (Foto: Antara/Basri Marzuki)

Berkat Inovasi, Sawah Tadah Hujan Panen Tiga Kali Setahun

Ekonomi berita kementan
Gervin Nathaniel Purba • 26 Maret 2020 13:52
Jakarta: Sawah tadah hujan selama ini dikenal sebagai lahan sawah yang hanya bisa panen satu kali dalam setahun. Tapi dengan teknologi dan inovasi, sawah tadah hujan kini bisa panen tiga kali dalam setahun.
 
“Sawah tadah hujan biasanya mengandalkan curah hujan dan hanya bisa menghasilkan di musim hujan. Tapi pengkajian kami membuktikan penerapan inovasi bisa meningkatkan produktivitasnya secara signifikan,” ujar Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjry Djufri, dalam keterangan tertulis, Kamis, 26 Maret 2020
 
Upaya Kementan untuk mendorong peningkatan produktivitas padi di sawah tadah hujan dilakukan untuk memastikan stok beras nasional berlimpah. Bahkan pemerintah memiliki target untuk meningkatkan ekspor beras.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pekan lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memprediksi masa panen raya berlangsung pada Maret-April nanti, dan akan ada tambahan stok beras hingga delapan juta ton. Produksi padi tidak lagi hanya mengandalkan lahan sawah beririgasi, tapi juga pemanfaatan lahan suboptimal.
 
“Langkah-langkah inovatif perlu dilakukan untuk memastikan produksi beras kita meningkat secara signifikan, antara lain dengan memanfaatkan lahan-lahan yang belum optimal dan menambah kapasitas produksinya,” ujar Fadjry.
 
Untuk menambah kapasitas produksi sawah tadah hujan, Kementan telah meningkatkan pemberian bantuan pompa air. Berdasarkan pengkajian yang dilakukan Balitbangtan, pompa air menjadi titik ungkit sawah tadah hujan untuk bisa memiliki indeks pertanaman (IP) 300.
 
“Berdasarkan pengkajian kami, pemanfaatan air tanah dengan menggunakan pompa penting untuk dipraktikkan. Mereka menyiram sawah tadah hujan terutama pada musim tanam ketiga atau musim kemarau,” jelasnya.
 
Mekanisme pemanfaatan pompa air, disebut Fadjry, harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Air tanah di lahan sawah yang dangkal dengan tingkat kedalaman sekitar enam hingga sepuluh meter, cukup menggunakan pompa kapasitas kecil pun mampu mengeluarkan air yang cukup untuk sawah.
 
“Sedangkan untuk daerah lain yang lebih jauh dari sungai dan air tanah lebih dalam posisinya. Maka diperlukan pompa dengan kapasitas lebih besar agar dapat mengeluarkan air dengan debit yang sama,” kata Fadjry.
 
Selain pemanfaatan pompa air, optimalisasi sawah tadah hujan juga dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanah. Pada lahan yang bertekstur liat, produktivitas padi dapat mencapai delapan ton per hektare (ha). Sedangkan pada lahan yang bertekstur pasir produktivitasnya lima ton per hektare.
 
“Untuk itu, kami melakukan upaya untuk meningkatkan produktivitas padi pada lahan sawah yang bertekstur pasir, di antaranya dengan penambahan bahan organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan kemampuan tanah dalam memegang air,” pungkas Fadjry.

 
(ROS)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif