Antivirus berbasis eucalyptus. Foto: dok Kementerian Pertanian
Antivirus berbasis eucalyptus. Foto: dok Kementerian Pertanian

Balitbangtan: Eucalyptus Lebih Efektif Ketimbang Empon-empon

Ekonomi kementerian pertanian virus corona
Ilham wibowo • 12 Mei 2020 16:00
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menyebut potensi eucalyptus lebih efektif dalam mencegah tertular covid-19 dibandingkan produk jamu yang terbuat dari empon-empon. Bahan aktif pada eucalyptus mampu bekerja langsung pada mekanisme replikasi virus korona.
 
Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry mengatakan pihaknya telah melakukan penelitian terhadap berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk keperluan penyembuhan penyakit termasuk pengendalian virus. Riset dilakukan bersamaan oleh para ahli di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitrro) serta Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen).
 
Menurutnya, efek penyembuhan pada empon-empon yang dibuat dalam ramuan jamu hanya bekerja untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia. Sementara eucalyptus, memiliki senyawa aktif 1,8-cineol yang bisa membunuh virus influenza, beta corona, serta gamma corona sebanyak 80 hingga 100 persen dan potensial diaplikasikan untuk covid-19.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sudah kami coba (pengujian empon-empon) tapi tidak langsung untuk target ke virus," kata Fadjri kepada Medcom.id, Selasa, 12 Mei 2020.
 
Fadjri memaparkan bahwa pihaknya melakukan pengujian secara molekular docking atau simulasi di komputer terhadap seluruh tumbuhan herbal di Tanah Air. Uji sampel kemudian dilanjutkan di laboratorium yang mengantongi sertifikat keselamatan biologi (Biosavety) level 3 (BSL3) yang dimiliki Kementan.
 
Hasil telusur ilmiah serta riset daya antivirus pada eucalyptus telah disimpulkan bisa membantu pencegahan covid-19 melalui mekanisme Mpro. Mpro merupakan main protease (3CLPro) yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi beragam jenis virus korona.
 
"Kami mencocokan bahan aktif yang ada di setiap bahan yang kami teliti dengan target virus yang kita mau bunuh. Nah memang kandungan minyak atsiri bukan hanya ada di eucalyptus, tapi yang keluar ini dulu karena sudah duluan diteliti dan dibuat prototipe agar masyarakat tidak menunggu lama," paparnya.
 
Fadjry menegaskan pihaknya berpengalaman meneliti virus korona yang telah muncul sebelum covid-19 seperti virus avian influenza atau H5N1. Balitbangtan bahkan berhasil membuat vaksin secara mandiri saat merebaknya wabah itu 10 tahun silam.
 
Meski demikian, lanjut dia, keberadaan vaksin saat ini tengah diteliti oleh lembaga lain di Indonesia yang juga memiliki kapasitas. Kehadiran inovasi antivirus berbasis eucalyptus pun menjadi angin segar lantaran langsung bisa digunakan saat ini dan dibuat massal tanpa perlu melakukan uji klinis bertahap seperti vaksin.
 
"Kapasitas kemampuan peneliti dan profesor virologi Balitbangtan sangat mumpuni dan laboratorium kami sudah menggunakan bio security level 3 untuk menangani penyakit berbahaya seperti antraks. Kami sudah terlatih dengan virus berbahaya yang berpindah dari manusia, kami yakin bisa pertangungjawabkan secara ilmiah," ungkapnya.
 
Adapun inovasi eucalyptus yang diaplikasikan dengan pemanfaatan nano teknologi tersebut telah dicoba terhadap 20 pasien positif covid-19. Fadjry menuturkan bahwa para pasien memberikan testimoni tingkat kesembuhan yang baik dengan lancarnya sistem saluran pernapasan.
 
"Kami baru uji ini pada 20 orang yang terpapar dan positif virus covid-19, dan semua merespons positif dalam artian pernafasan lebih bagus, aktivitas sudah fit dengan menggunakan bahan aktif eucalyptus," pungkasnya.

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif