Ilustrasi UMKM memasarkan produknya secara online Foto: MI/Rommy Pujianto
Ilustrasi UMKM memasarkan produknya secara online Foto: MI/Rommy Pujianto

Keberhasilan UMKM Berjualan Online Masih Rendah

Ekonomi umkm kementerian koperasi dan ukm
Ilham wibowo • 20 Mei 2020 15:32
Jakarta: Mengalihkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari offline ke online memang bisa memberikan peluang dalam menghadapi new normal akibat pandemi covid-19. Namun, gencarnya penjualan di platform online perlu diimbangi dengan kualitas, inovasi, dan konsistensi dalam hal pelayanan kepada pembeli.
 
"Hari ini momentum tranformasi UMKM dari offline ke online walaupun tidak mudah. Berbagai pelatihan berjualan di e-commerce tingkat keberhasilannya masih rendah walaupun usaha sudah banyak dan biaya sudah besar," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki saat meluncurkan KUMKM Hub bersama Blibli.com, di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Teten tetap optimistis cita-cita memanfaatkan pemasaran online untuk mendorong UMKM lebih cepat naik kelas bisa terwujud. Saat pandemi covid-19, sudah ada pergeseran pemasaran produk dari offline ke online meskipun jumlahnya baru mencapai delapan juta atau 13 persen dari seluruh UMKM di Indonesia yang mencapai 64 juta.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setelah online pun UMKM masih harus tetap dan akan bersaing dengan seluruh brand besar di platform digital," tuturnya.
 
Teten memaparkan bahwa Pemerintah mendukung penuh transformasi UMKM dengan membangun infrastruktur digital yang diupayakan merata untuk seluruh penjuru daerah. Tak hanya jaringan internet, dukungan juga diberikan dengan membekali para pelaku UMKM potensial yang ingin berkembang dengan smartphone.
 
Selain dukungan infrastruktur yang jadi prioritas, pelaku UMKM juga didorong agar mampu menjadi pebisnis yang cermat membaca peluang. Pengelolaan usaha dituntut siap dengan lonjakan permintaan konsumen yang bisa saja di atas perkiraan. Namun, sekali lagi Teten mengingatkan perlunya konsistensi dalam hal kualitas.
 
"Kami belajar dari teman-teman e-commerce, belum tentu pindah ke online bisa langsung sukses. Penting agar siapkan pelaku UMKM dengan kualitas produknya dan tentu kapasitas produksi harus cukup. Kalau masuk ke online harus punya stok besar karena permintaan juga besar, kalau tidak bisa memenuhi keinginan masyarakat nanti kredibilitas jatuh," paparnya.
 
Lebih dari itu, kata Teten, brand image produk UMKM juga memegang peranan yang sangat penting. Kemudian promosi dan kecepatan dalam merespons konsumen.
 
"Memelihara respons cepat konsumen, ini penting kemampuan itu dimiliki UMKM," ucapnya.
 
Teten menambahkan bahwa masalah pengembangan UMKM di Indonesia saat ini yakni masih maraknya perang sesama UMKM yang mana jenis produk yang dipasarkan sama. Dirinya berpendapat persaingan antar brand perlu dikonsolidasikan dengan membentuk brand yang lebih sedikit, tetapi kapasitas produksi besar.
 
"Kami lagi mau cari konsolidasi untuk mereka tidak terlalu banyak brand, mungkin sebagian tidak perlu punya brand dan sebagian lain menggunakan brand bersama, supply bahan baku dan nanti packaging ulang," ucapnya.
 
Konsolidasi produk UMKM ini berhasil diterapkan di Jepang yang dinilai cocok ditiru untuk program UMKM di Tanah Air. Menurut Teten, data brand value yang telah tercatat bisa digunakan untuk syarat mendapatkan pendanaan yang lebih besar seperti di pasar modal dengan memanfaatkan papan akselerasi UMKM.
 
"Misalnya sekarang keripik singkong banyak banget brand, kopi juga banyak, bakpia pathok di Yogyakarta sehingga perang dengan sesama UMKM, nah ini tidak boleh lagi," pungkasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif