Ilustrasi penurunan harga gas angin segar bagi industri manufaktur
Ilustrasi penurunan harga gas angin segar bagi industri manufaktur

Penurunan Harga Gas Angin Segar Bagi Industri Manufaktur

Ekonomi gas industri manufaktur
Ilham wibowo • 15 April 2020 16:37
Jakarta: Pelaku industri manufaktur menyebut penurunan harga gas di level USD6 per juta metrik british thermal unit (MMBTU) merupakan angin segar di tengah dampak pandemi covid-19. Nafas perusahaan diyakini bisa lebih panjang untuk terus berproduksi.
 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas), Fajar Budiyono menuturkan, penurunan harga gas industri sangat membantu keberlangsungan industri petrokimia. Sebab harga jual produk akan turun sekitar USD2 per ton sehingga dapat bersaing terhadap produk impor dari luar Asean.
 
“Saat ini ada beberapa komoditas yang sudah over supply yang diakibatkan oleh penambahan kapasitas atau investasi baru dan juga pelemahan permintaan dalam negri sehingga dengan penurunan harga gas ini akan memperkuat daya saing untuk ekspor,” tutur Fajar melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 15 April 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wakil Ketua Umum Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) Bonar Sirait menyampaikan, pihaknya menyambut gembira atas terbitnya kebijakan penurunan harga gas. Langkah ini keputusan yang sangat tepat dan kembali menggairahkan industri.
 
“Apalagi, dalam keadaan sekarang ini di tengah pandemi covid 19, terjadi kondisi yang luar biasa dan force majeure bagi seluruh industri. Kebijakan turunnya harga gas akan membuat industri dapat nafas baru,” ujarnya.
 
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan terbitnya kebijakan penurunan harga gas industri sangat memengaruhi hidup atau matinya industri kaca lembaran. Sebab daya saing sektor industri kaca sangat bergantung pada keekonomian energi gas bumi.
 
“Ini membuktikan komitmen dan keberpihakan pemerintah, khususnya Menteri Perindustrian, Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menko Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto serta Kabinet Indonesia Maju, terhadap dukungan sektor industri manufaktur sebagai sektor riil yang berdampak ganda dan terus memutar roda perekonomian,” paparnya.
 
Yustinus menjelaskan di industri manufaktur ada tangible asset dan intangible asset, yang merupakan akumulasi usaha dan konsistensi yang didukung oleh kebijakan pemerintah.
 
“Kami yakin sektor industri manufaktur pengguna gas bumi bisa bangkit dan berkontribusi lebih banyak pada perekonomian nasional, bahkan semakin kuat untuk re-industrialisasi, dengan memasok kebutuhan domestik dan ekspor,” tuturnya.
 
Penetapan harga gas industri menjadi USD6 per MMBTU setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri. Beleid tersebut merupakan pelaksanaan dari hasil rapat terbatas pada 18 Maret 2020 lalu, yang memutuskan penyesuaian harga gas untuk industri termasuk kebutuhan PT PLN (Persero).
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif