Demonstrasi menolak UU Cipta Kerja (Ciptaker) terjadi sejumlah daerah, di antaranya DKI Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay.
Demonstrasi menolak UU Cipta Kerja (Ciptaker) terjadi sejumlah daerah, di antaranya DKI Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay.

Demo UU Cipta Kerja Diyakini tak Memengaruhi Investasi

Ekonomi BKPM Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Eko Nordiansyah • 08 Oktober 2020 19:46
Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meyakini aksi demonstrasi menolak Undang-Undang (UU) Cipta Kerja tidak akan memengaruhi iklim investasi. Sejauh ini belum ada investor yang mengurungkan niat untuk investasi karena demo penolakan UU Cipta Kerja.
 
"Saya ingin mengatakan sampai hari ini belum ada niat investor yang membatalkan gara-gara demo atau mengganggu iklim investasi," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam video conference di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020.
 
Menurut dia, penyampaian aspirasi oleh kelompok masyarakat yang terjadi belakangan ini merupakan hal yang wajar dan dijamin oleh undang-undang. Hanya saja masukan atau kritik yang disampaikan bersifat konstruktif, objektif dan mempunyai data.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam pandangan kami, dalam beberapa hari ini rasa-rasanya ini kita sudah mulai masuk pada suatu pola dimana ada terkesan sekelompok tertentu yang ingin untuk menggiring fakta menjadi sesuatu yang bukan fakta dengan kepentingan kelompoknya masing-masing," ungkapnya.
 
Meski begitu, Bahlil menjelaskan kehadiran UU Cipta Kerja ditujukan untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Caranya adalah dengan mempermudah perizinan berusaha sehingga menarik lebih banyak investasi, yang akhirnya menciptakan lapangan kerja.
 
Ia menambahkan, Indonesia juga akan menghadapi bonus demografi pada 2035 mendatang dengan jumlah angkatan kerja yang tinggi. Artinya jika tidak ada lapangan kerja tersedia, maka Indonesia akan tetap menjadi negara berpendapatan menengah.
 
"Ini adalah undang-undang masa depan. Ini adalah undang-undang untuk anak-anak muda yang dimana bonus demografi pada 2035 adalah puncak-puncaknya. Bayangkan kalau ini tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk adik-adik kita, kita akan menjadi generasi yang akan menyesal di kemudian hari," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif