Bisnis restoran sulit capai penjualan. Foto: dok MI.
Bisnis restoran sulit capai penjualan. Foto: dok MI.

Bisnis Restoran Sulit Capai Target Penjualan

Ekonomi dunia usaha bisnis pandemi covid-19
Ilham wibowo • 23 Juni 2020 10:41
Jakarta: Bisnis ritel di sektor restoran maupun makanan cepat saji mesti berjuang keras agar tetap bertahan menghadapi pandemi covid-19. Ancaman pelemahan daya beli masyarakat diperkirakan masih terus berlanjut hingga akhir 2020.
 
Ketua Komite Tetap bidang Franchise, Lisensi dan Kemitraan Kadin Indonesia Levita G. Supit mengatakan bahwa pandemi covid-19 telah memukul bisnis makanan cepat saji seperti Lotteria yang berencana menutup seluruh gerainya di Tanah Air. Perusahaan asal Korea Selatan itu dinilai tak mampu memenuhi target penjualan lantaran beban pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan.
 
"Mungkin Lotteria tidak mencapai target dalam merebut pasar di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan mereka mengambil keputusan untuk rencana menutup gerai di Indonesia," kata Levita kepada Medcom.id, Selasa, 23 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Levita, bisnis waralaba secara keseluruhan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Merek dagang besar lainnya baik asing maupun lokal bahkan telah melakukan obral diskon produk hanya untuk mempertahankan aset hingga kondisi ekonomi kembali pulih.
 
"Brand yang lebih besar dari Lotteria dengan menu yang mirip juga melakukan PHK untuk sebagian karyawannya. Jadi wajar kalau pandemi itu berdampak juga ke Lotteria," ungkapnya.
 
Baca: Lotteria Tutup Permanen Seluruh Gerai Mulai 29 Juni
 
Bisnis waralaba, lanjut Levita, kinerjanya belum bisa leluasa bertumbuh seiring dengan aktivitas masyarakat yang juga belum normal. Selain perkantoran di kota besar, pusat perbelanjaan juga mesti ditutup selama 3,5 bulan untuk menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
 
"Menurut saya, di masa pandemi ini semua bisnis melambat bahkan ada yang sampai tutup. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya PHK lalu merumahkan karyawan disertai dengan pemotongan gaji," tuturnya.
 
Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Sudradjat menuturkan bahwa bisnis di sektor food and beverage tidak akan segera pulih meskipun saat ini telah diberikan relaksasi PSBB. Para pengusaha juga melihat peluang bisnis lain dengan memindahkan gerai yang tadinya di mal menjadi stand alone atau mandiri.
 
"Ke depan restoran ini akan lebih banyak stand alone di rumah sendiri atau ruko sendiri atau sewa di luar dan lain sebagainya. Mal memang mudah untuk dijangkau dan orang berduyun-duyun tetapi sewanya tinggi," ujarnya.
 
Founder Breso Resto & Coffee ini juga merasakan penurunan omzet setelah membuka kembali gerainya yang berada di pusat perbelanjaan pada 15 Juni 2020. Dari empat gerai yang tersebar, tiga di antaranya mesti kembali ditutup lantaran beban pengeluaran yang cukup tinggi.
 
"Ternyata dari beberapa mal itu omzet tidak seperti yang kami harapkan, jauh sekali dan kadang-kadang jualan di mal sama saja dengan jualan di pinggir jalan," ungkapnya.
 
Sudradjat menuturkan bahwa dirinya juga berencana memilih konsep penjualan stand alone agar lebih dekat dengan pelanggan loyal. Jangka pendek, inovasi menu yang ditawarkan juga akan dipatok dengan tarif lebih terjangkau.
 
"Kita tidak mungkin spend terus menerus di luar perusahaan yang kita jalankan, menjadi beban," pungkasnya.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif