Ilustrasi. Foto: AFP.
Ilustrasi. Foto: AFP.

Peniliti Sebut Produk HPTL Berisiko Lebih Rendah dari Konvensional

Ekonomi industri rokok rokok tembakau
Juven Martua Sitompul • 30 Agustus 2021 20:33
Jakarta: Pemerintah disebut akan merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 terkait pengaturan produk tembakau berupa rokok. PP 109 bahkan disebut bakal meregulasi produk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL).
 
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beralasan produk HPTL memiliki risiko yang sama dengan rokok konvensional. Namun, klaim yang diberikan Kemenkes itu dinilai tidak sejalan dengan hasil riset dari para ahli di dalam negeri, salah satunya dari Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian, Universitas Padjadjaran (PUI-IPK Unpad).
 
Riset yang diterbitkan di jurnal medis internasional ini menyatakan bahwa produk HPTL berpotensi lebih rendah risiko dari rokok konvensional. Terpenting, dapat membantu perokok berhenti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Melalui tinjauan pustaka sistematis yang kami lakukan, penelitian kami bertujuan untuk mencari bukti dari hasil penelitian terkini terkait efektivitas dan keamanan berbagai produk HPTL dalam upaya pengurangan dan berhenti merokok. Hasil utama studi kami menyimpulkan bahwa secara umum, produk-produk tersebut lebih rendah risiko dan dapat mengurangi konsumsi rokok bagi para perokok aktif dewasa," ujar peneliti PUI-IPK, Neily Zakiyah, melalui keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 30 Agustus 2021.
 
Neily menekankan pentingnya skema regulasi yang dapat memfasilitasi upaya tersebut. Dia menyebut penggunaan produk HPTL berpotensi membantu upaya berhenti merokok dengan melemahkan gejala withdrawal dari rokok.
 
Baca: Asosiasi Harap Regulasi Produk HPTL Berbasis Penelitian
 
"Pemerintah dapat turut serta dalam upaya tobacco harm reduction dengan menyediakan informasi yang komprehensif dan berimbang mengenai bahaya dan potensi manfaat dari produk-produk tersebut untuk usaha pengurangan dan berhenti merokok, serta membuat regulasi yang sesuai dengan berbasis bukti (dari penelitian), sehingga upaya tobacoo harm reduction bisa tepat sasaran," kata dia.
 
Neily beranggapan pemerintah membutuhkan studi yang mumpuni sebagai landasan dalam perumusan kebijakan. Menurut dia, pemerintah perlu menggali lebih lanjut dampak jangka panjang produk HPTL.
 
"Perlu juga diteliti apakah dampak penggunaan produk-produk tersebut di populasi yang rentan seperti anak muda. Dengan tersedianya data dan hasil penelitian yang komprehensif terhadap potensi manfaat dan juga risiko dari HPTL, pemerintah bisa merumuskan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat sasaran," kata Neily.
 
Hal senada disampaikan pendiri NCIG, Roy Lefrans. Dia berpendapat HPTL sangat dibutuhkan perokok sebagai alternatif sehingga perlu regulasi yang mendukung produk tersebut untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
 
"Sudah banyak manfaat yang dirasakan perokok setelah beralih ke produk HPTL, khususnya vape, seperti nafas lebih enteng, tidak ada riak/dahak di pagi hari, dan tidak bau. Untuk itu, dukungan pemerintah sangat diperlukan agar potensi manfaat dari HPTL dapat terasa secara optimal. Salah satunya, melalui penyesuaian skema tarif cukaimenjadi spesifik sehingga dapat meringankan beban pelaku HPTL dan cenderung meningkatkan kepatuhan usaha serta mengurangi persaingan yang tidak sehat," kata Roy
 
(JMS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif