Ilustrasi logistik. Foto : MI/Budi Warsito.
Ilustrasi logistik. Foto : MI/Budi Warsito.

Volume Sektor Logistik Merosot Akibat Covid-19

Ekonomi logistik
Antara • 12 Mei 2020 19:13
Jakarta: Volume sektor logistik, yang mencakup usaha transportasi dan pergudangan, pada triwulan I-2020 hanya tumbuh sebesar 1,27 persen (year on year) atau merosot dibandingkan 2019, yang tumbuh 5,45 persen.
 
"Penurunan volume sektor logistik tersebut sangat dipengaruhi dampak pandemi covid-19 yang berimbas terhadap penurunan permintaan barang dan komoditas, maupun aktivitas industri," kata Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi dikutip dari Antara, Selasa, 12 Mei 2020.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi triwulan I-2020 sebesar 2,97 persen (yoy) dibandingkan triwulan IV-2019, terjadi penurunan sebesar 2,41 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan angka itu, sektor logistik berkontribusi terhadap PDB triwulan I-2020 sebesar 5,17 persen atau terjadi penurunan kontribusi dibandingkan triwulan I-2019 yang tercatat sebesar 5,53 persen.
 
Sektor logistik mencakup subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir. Sektor logistik juga mencakup subsektor transportasi per moda, yatu rel, darat, laut, udara, serta sungai, danau, dan penyeberangan.
 
Setijadi menuturkan pertumbuhan sektor logistik pada pada triwulan I-2020 terutama didorong industri pengolahan yang tumbuh sebesar 2,06 persen (yoy); akomodasi makan dan minum sebesar 1,95 persen; serta perdagangan 1,60 persen.
 
Pada triwulan tersebut pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh sebesar 0,02 persen.
 
Terjadi penurunan pertumbuhan pada sektor-sektor tersebut, baik industri pengolahan minus 1,79 persen; akomodasi makan dan minum minus 3,92 persen; perdagangan minus 3,61 persen; serta pertanian, kehutanan, dan perikanan minus 1,80 persen.
 
Pada triwulan I-2020 subsektor transportasi yang mengalami tingkat pertumbuhan tertinggi (yoy) adalah angkutan laut yaitu sebesar 5,93 persen; diikuti oleh angkutan darat (5,15 persen); dan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (1,16 persen). Pertumbuhan negatif terjadi pada angkutan rel minus 6,96 persen dan udara minus13,31 persen.
 
Sementara itu, subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir juga mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 0,73 persen (yoy).
 
"Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quartal-to-quartal), semua subsektor transportasi tersebut pada triwulan I-2020 mengalami pertumbuhan negatif, dengan penurunan tertinggi pada angkutan udara minus 23,11 persen; diikuti angkutan rel minus 14,22 persen, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan minus 4,16 persen; angkutan laut minus 4,07 persen; dan angkutan darat minus 0,67 persen.
 
Subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir mengalami pertumbuhan negatif q-to-q cukup besar, yaitu sebesar minus 10,89 persen.
 
“Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi terbesar dalam PDB mengalami penurunan pertumbuhan dari 5,02 persen pada triwulan I-2019 menjadi 2,84 persen pada triwulan I-2020,” ujarnya.
 
Dia menambahkan penurunan volume sektor logistik juga dipengaruhi pertumbuhan negatif ekspor dan impor Indonesia. Pertumbuhan ekspor sebesar minus 6,37 persen dan impor sebesar minus 11,89 persen (q-to-q).
 
"Penurunan ekspor dan impor terjadi karena industri Indonesia menjadi bagian dari global supply chain (rantai pasok dunia) yang terdampak pandemi covid-19," katanya.
 
Setijadi menambahkan penurunan impor yang besar itu di samping karena penurunan permintaan dalam negeri juga menunjukkan ketergantungan industri Indonesia terhadap pasokan barang modal dan bahan baku dari luar negeri.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif