Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Laba Bersih PLN Anjlok 62,66% di 2019

Ekonomi listrik pln tarif dasar listrik tarif listrik
Suci Sedya Utami, Annisa ayu artanti • 19 Mei 2020 07:23
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp4,32 triliun pada Tahun Buku 2019 yang telah diaudit. Laba tersebut tergerus sebanyak 62,66 persen dibandingkan dengn posisi 2018 yang mencapai Rp11,57 triliun.
 
Anjloknya laba secara signifikan dipengaruhi oleh beban pajak tahun lalu yang meningkat hngga Rp21,79 triliun dibandingkan 2018 yang hanya menyetorkan pajak sebesar Rp8,32 triliun. PLN juga mencatat peningkatan beban usaha. Beban usaha PLN sepanjang 2019 tercatat sebesar Rp315,44 triliun, atau naik 2,35 persen dari periode 2018 sebesar Rp308,18 triliun.
 
Bila dirinci, beban usaha terbesar berasal dari beban bahan bakar dan pelumas sebesar Rp136,08 triliun, beban pembelian tenaga listrik sebesar Rp83,56 triliun, beban akibat penyusutan sebesar Rp35,32 triliun, dan beban kepegawaian sebesar Rp25,9 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian, PLN mencatat beban lain-lain sebesar Rp3,66 triliun. Padahal pada periode 2018 pos ini mencatatkan penghasilan sebesar Rp15,66 triliun. Selain itu, PLN mencatat pembengkakan beban keuangan Rp21,62 triliun di 2018 menjadi Rp24,62 triliun di 2019.
 
"Perseroan mencatatkan laba bersih Rp4,32 triliun, serta laba operasi setelah subsidi pemerintah Rp44,16 triliun dengan EBITDA di 2019 Rp81,66 triliun," kata Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN Made Suprateka, dalam keterangan resminya, di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2020.
 
Sementara itu, dengan kondisi tarif listrik yang tidak terjadi penyesuaian kenaikan, pendapatan usaha justru membaik atau tumbuh 4,67 persen menjadi Rp285,64 triliun. Peningkatan pendapatan disumbang oleh kenaikan volume penjualan listrik 4,18 persen dari 2018 yang sebesar 234,62 Terra Watt hour (TWh) menjadi 245,52 TWh.
 
Peningkatan penjualan tersebut didukung oleh adanya pertumbuhan jumlah pelanggan. Hingga akhir Desember 2019 jumlah pelanggan mencapai 75,7 juta dengan daya tersambung 136.600 Mega Volt Ampere (MVA) atau bertambah sebanyak 3,8 juta pelanggan dengan daya 7.700 MVA dari posisi akhir Desember 2018 sebesar 71,9 juta pelanggan.
 
"Dengan demikian, rasio elektrifikasi nasional dapat digenjot dari 98,3 persen di 2018 menjadi 98,89 persen pada akhir 2019," kata Made.
 
Secara operasional, perusahaan menambah kapasitas terpasang pembangkit 4.588 Mega Watt (MW) dari 57.646 MW pada 2018 menjadi 62.234 MW pada 2019. Jaringan transmisi khususnya untuk evakuasi daya pembangkit yang telah beroperasi meningkat 6.211 kilometer sirkuit (kms) dari 53.606 kms pada 2018 menjadi 59.817 kms sampai dengan akhir 2019.
 
Kemudian penambahan kapasitas gardu induk sebesar 17.507 MVA dari 131.164 MVA pada 2018 menjadi 148.671 MVA. Lebih lanjut, hasil audit subsidi dan kompensasi yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) menunjukkan terjadinya penurunan Biaya Pokok Produksi (BPP) di 2019 dibandingkan dengan di 2018.
 
Per 31 Desember 2019, aset PLN tercatat sebesar Rp1.585 triliun yang terdiri dari liabilitas sebesar Rp655,67 triliun dan ekuitas sebesar Rp929,38 triliun. "Hal ini merupakan hasil dari upaya efisiensi yang dilakukan oleh PLN selama 2019," pungkas Made.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif