Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

KESDM Manfaatkan Tabung Listrik Demi Rasio Elektrifikasi 100%

Ekonomi Kementerian ESDM
Suci Sedya Utami • 02 Agustus 2020 17:15
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematangkan strategi dalam mempercepat elektifikasi di desa-desa yang berada di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Caranya dengan memanfaatkan tabung listrik (talis).
 
Sebanyak 52 ribu talis direncanakan akan diberikan kepada rumah tangga di 306 desa yang berada pada wilayah dengan kondisi geografi yang tidak memungkinkan untuk dipasang jaringan listrik PLN. Desa-desa tersebut berada di atas gunung dan bukit yang memang susah untuk dipasang dengan menggunakan grid.
 
"Cara yang baik untuk melistriki adalah dengan menggunakan talis. Karena demografinya maupun geografinya berada di atas gunung, di bukit, ada yang berserak sehingga mau tidak mau harus dengan talis. Kalau digunakan dengan grid tentu akan mahal dan tidak mungkin, losses sangat tinggi di sana," kata Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu yang dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, Minggu, 2 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jisman mengatakan, Kementerian ESDM telah bersepakat dengan Komisi VII DPR RI untuk mengalokasikan 25 ribu talis pada anggaran Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) tahun 2021. Sementara untuk pengadaan 27 ribu talis lainnya masih dilakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan.
 
"Telah diputuskan dari 52 ribu kebutuhan talis di sana, sudah ada kesepakatan dengan komisi VII DPR RI pada rapat kerja kemarin (25 Juni 2020) untuk dialokasikan Ditjen EBTKE sebanyak 25 ribu talis, dan dilaksanakan di 2021," terang Jisman.
 
Untuk penambahan daya pada talis, selain menggunakan energi matahari, juga akan disediakan Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL) di beberapa tempat. Selain itu, setiap rumah tangga yang mendapatkan talis juga akan diberikan satu talis cadangan, sehingga ketika dilakukan pengisian daya, listrik di rumah tetap menyala.
 
"Sangat mudah handlingnya dan bisa di-charge menggunakan energi matahari. Selain itu, adanya namanya SPEL, nanti ditempatkan di beberapa tempat, mungkin di 30 rumah tangga ada satu SPEL-nya. Kita juga berikan cadangan, supaya nanti polanya seperti LPG yang di rumah kita jadi nggak nunggu dia. Ini kita berharap ada cadangannya supaya masyarakat bisa menggunakan setiap hari," tutur dia.
 
Jisman berharap pembagian talis bisa dilakukan tahun depan, agar rasio desa berlistrik dan rasio elektrifikasi bisa mencapai 100 persen. Hingga semester I-2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 99,09 persen, sementara rasio desa berlistrik sebesar 99,51 persen.
 
Saat ini terdapat 433 desa yang belum berlistrik, 306 desa akan dilistriki menggunakan talis, 75 desa menggunakan PLTS Komunal atau PLTD Hybrid, sementara 52 desa lainnya akan dilistriki perluasan jaringan listrik (grid extension).
 
"Mudah-mudahan tahun depan bisa kita realisasikan, sehingga rasio desa berlistrik dan rasio elektrifikasi bisa 100 petsen," ujar dia.
 
Smart Grid untuk Efisiensi Tenaga Listrik
 
Jisman juga menjelaskan terkait teknologi smart grid yang direncanakan akan dilakukan di tahun ini oleh PT PLN pada sistem Jawa-Bali. Jisman mengatakan smart grid telah masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN).
 
"Smart grid ini banyak (jenisnya), yang penting dia jaringan cerdas, cerdasnya itu artinya bisa pembagkitnya, bisa pada komunikasi antara pelanggan dengan pengatur bebannya. Jadi bisa di hulunya dan bisa di hilirnya," kata Jisman.
 
Penggunaan smart grid bertujuan untuk peningkatan efisiensi. Jisman mencontohkan, jika ada komunikasi dari seluruh pelanggan ke pengatur beban atau pemilik jaringan terkait di waktu tertentu hanya menggunakan listrik dengan jumlah tertentu, maka pengelola sudah bisa memastikan dalam waktu tersebut hanya menyediakan sejumlah yang dibutuhkan.
 
Sebab, lanjut Jisman, saat ini penyerapan listrik lebih rendah dari kapasitas pembangkit yang ada. Misalnya kapasitas pembangkit yang tersedia 30 megawatt (MW), namun yang terserap hanya 15 MW. Sementara di saat tertentu ada penggunaan yang tinggi sehingga pembangkit tetap harus dioperasikan penuh.
 
"Ini yang membuat tidak efisien. Jadi intinya smart grid ini sangat menguntungkan. Dan ke depan nanti untuk daerah-daerah yang 3T bisa digunakan untuk sistem yang isolated, yang ada di pulau sehingga ada efisiensi yang terjadi di sana," pungkas dia.
 

(DEV)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif