Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih. Foto: Dok.Kemenperin.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih. Foto: Dok.Kemenperin.

Industri Kemasan Punya Prospek Cerah Seiring Perkembangan Teknologi

Ekonomi Kementerian Perindustrian industri manufaktur
Nia Deviyana • 30 November 2020 14:46
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan industri manufaktur secara umum tidak dapat lepas dari peran industri kemasan. Bahkan, seiring perkembangan ke arah era industri 4.0 dan menghadapi adaptasi kebiasaan baru, produsen pengemasan diharapkan mampu menciptakan inovasi sehingga mampu memenuhi kebutuhan dan mengikuti tren masa kini.
 
Berdasarkan data Indonesia Packaging Federation (2020), kinerja industri kemasan di Tanah Air diproyeksi tumbuh pada kisaran enam persen pada 2020 dari nilai realisasi tahun lalu sebesar Rp98,8 triliun. Ditinjau dari materialnya, kemasan yang beredar sebesar 44 persen dalam bentuk kemasan flexible, 14 persen kemasan rigid plastic, dan 28 persen kemasan paperboard.
 
"Proporsi ini kami yakini akan meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kemasan lainnya, dengan didorong oleh pesatnya peningkatan pasar digital yang membuat mobilitas produk semakin tinggi. Karakteristik kedua kemasan tersebut, dari sisi ekonomi dan daya tahan membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik," ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih melalui keterangan tertulis, Senin, 30 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gati mengutip AT Kerney dalam hasil risetnya di Asia (2019), menyatakan bahwa terdapat beberapa pergeseran paradigma yang terjadi secara makro ekonomi yang memengaruhi tren industri pengemasan. Misalnya, pertumbuhan penjualan retail online di Asia yang mencapai rata-rata 19 persen per tahun menggeser tren kemasan yang awalnya lebih mementingkan penampilan, menjadi lebih mementingkan kekuatan dan daya tahan kemasan.
 
"Kemudian, meningkatnya permintaan smart packaging, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kemasan yang berkelanjutan, serta desain kemasan yang dapat mengurangi biaya pengemasan, yang tentu saja akan mengurangi harga jual dan meningkatkan daya saing produk," papar Gati.
 
Saat ini, teknologi pengemasan berkembang dengan sangat cepat, di antaranya menggunakan active & intelligent packaging, modified atmosphere packaging (MAP), vacuum pack (preserve the freshness of food), frozen food (freezing foof preserves), dan retort packaging (for ready to eat meals).
 
Dengan kemajuan teknologi, lanjut Gati, orang-orang harus berinovasi mengembangkan teknologi kemasan dan mencari solusi untuk masalah-masalah pangan yang sangat rentan risiko, seperti untuk pangan basah.
 
"Untuk menjaga keamanan dan kekuatan makanan, harus menggunakan teknologi, misalnya dengan menjadikan makanan tersebut beku, atau menggunakan active & intelligent packaging untuk mengetahui umur dan kondisi dari makanan tersebut. Selain ini teknologi retort packaging sangat diperlukan untuk makanan yang dapat disimpan lama, misalnya rendang atau gudeg dari Yogyakarta," imbuhnya.
 
Berbagai strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing sektor industri kecil menengah (IKM) terutama terkait kemasan, dipaparkan Gati antara lain memilih kemasan yang sesuai dengan segmentasi pasar yang menarik berbasis desain kreatif dan inovatif, memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh otoritas yang diakui secara luas, seperti GMP, HACCP, ISO, SNI, dan Halal.
 
Selain itu, pemilihan kualitas bahan baku dengan quality control yang konsisten, penetapan harga jual yang bersaing dengan tetap memenuhi rasio antara biaya produksi dan daya beli konsumen, menciptakan bentuk promosi yang kreatif, informatif dan mudah dipahami mengenai produk yang dipasarkan, serta memanfaatkan e-commerce sebagai digital marketing.
 
Kemenperin, melalui Ditjen IKMA, dipaparkan Gati memiliki Klinik Pengembangan Desain Merek dan Kemasan yang didirikan pada 2003. Klinik ini memiliki fungsi layanan informasi, konsultasi dan fasilitasi desain kemasan bagi seluruh IKM. Fungsi tersebut didukung oleh 25 Rumah Kemasan daerah yang tersebar di Indonesia.
 
Dalam kurun waktu 2015 sampai 30 Juni 2020, telah difasilitasi sebanyak 913 IKM, 82,04 persen merupakan IKM pangan (makanan dan minuman), diikuti IKM Kerajinan sebanyak 9,53 persen, dan IKM Sandang 6,13 persen.
 
IKM tersebut berasal dari Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Papua dengan proporsi terbesar dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Barat. Dari 1.653 desain kemasan yang difasilitasi klinik, material yang terbanyak adalah dari plastik, karton dan aluma.
 
"Peran dan fungsi Klinik Pengembangan Desain Merek dan Kemasan Ditjen IKMA terus ditingkatkan sehingga dapat menjadi Center of Excellence kemasan dengan melibatkan stakeholder terkait," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif