Ilustrasi KIA. Foto : MI.
Ilustrasi KIA. Foto : MI.

Pengamat Nilai Rencana Merger INKA-KAI Perlu Kajian Mendalam

Ekonomi BUMN merger inka persero pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 29 Oktober 2020 13:19
Jakarta: Sejumlah pengamat menilai rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir untuk mengakuisisi PT Industri Kereta Api atau PT INKA (Persero) ke PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI perlu dikaji ulang. Rencana merger tersebut harus dikaji secara mendalam.
 
"Lakukan studi yang cermat dan laksanakan kajian secara mendalam untuk studinya pilih lembaga yang kompeten. Kalau tidak, bisa hancur dua-duanya," kata pengamat kebijakan publik Agus Pambagio dalam keterangan resminya, Kamis, 29 Oktober 2020.
 
Agus berkaca pada pengalaman Ignasius Jonan saat menjadi bos KAI. Kala itu, Jonan keteteran karena diminta untuk mengurus urusan lain di luar KAI. Apalagi sekarang, KAI dititah untuk mengurusi Lintas Rel Terpadu (LRT) hingga Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Soal rencana merger perusahaan pelat merah, Agus meminta pemerintah untuk melakukan kajian secara mendalam dan menunjuk lembaga studi yang memiliki kapabilitas teruji. Sehingga lembaga tersebut bisa mengkaji secara visible sesuai tuntutan.
 
"Sekarang kinerja PT INKA lagi moncer karena kinerja pemasarannya bagus, sementara di satu sisi PT KAI lagi turun. Jadi kalau dimerger pasti hancur dua-duanya," ketusnya.
 
Terpisah, pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan bahwa kinerja INKA saat ini sedang mengalami perkembangan yang cukup bagus. Inovasi dan kreativitas pengembangan usahanya sudah mulai menampakkan hasil, bahkan diberi kepercayaan negara lain untuk memproduksi kereta dan lokomotif.
 
"Hasil sinergi dengan beberapa BUMN, (INKA) dapat kepercayaan untuk membangun jaringan kereta beserta sarananya yang menghubungkan beberapa negara di Afrika. Inovasi produksi bus listrik juga dapat dimanfaatkan oleh Ditjen Hubdat Kemenhub dalam mengembangkan program transportasi umum di daerah dengan skema Buy the Service," papar dia.
 
Sikap tidak setuju juga dikemukakan pengamat transportasi MS Hendrowijono. Dia bilang Erick memiliki tujuan yang mulia terhadap pengembangan transportasi, namun dalam hal ini tidak tepat karena menggabungkan perusahaan manufaktur dengan operator atau pelaksana transportasi kereta api.
 
Hendrowijono membeberkan saat ini INKA sudah memiliki pabrik baru dengan biaya tetap (fixed cost) yang tinggi dan membutuhkan proyek. Tapi di sisi lain pasar domestik INKA hanya dari KAI, itu pun baru tiga terakhir.
 
Oleh karena itu, dia mendesak agar pemerintah membiarkan INKA untuk terus melakukan penetrasi ke pasar global. Bila tidak, maka rencana merger INKA bakal membebani keuangan KAI yang saat ini sedang terdampak pandemi covid-19.
 
"Kalau INKA jadi anak perusahaan, Pemerintah Kongo akan balik kanan dan memilih Tiongkok atau Turki. Kalau ini terjadi, celaka dua belas. Megaproyek batal, INKA masuk KAI tanpa proyek, yang terjadi KAI ambruk," ketus Hendrowijono.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif