Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Setelah Vaksinasi, Ekonomi Diprediksi Mulai Positif di Kuartal II

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi vaksin covid-19
Suci Sedya Utami • 04 Januari 2021 13:02
Jakarta: Vaksinasi massal yang akan dilakukan pemerintah di tahun ini akan menjadi kunci bagi proses pemulihan ekonomi nasional 2021. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan bangkit ke jalur positif mulai kuartal kedua atau ketiga.
 
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan keberhasilan proses vaksinasi akan membentuk herd immunity yang pada akhirnya memengaruhi perilaku masyarakat dalam berkegiatan. Menurut dia, apabila kepercayaan masyarakat untuk kembali berkegiatan meningkat dan kembali berbelanja, maka akan berpengaruh positif pada perputaran roda perekonomian.
 
Meski demikian pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Komite Penanganan Covid-9 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) harus memastikan terlebih dahulu mengenai keamanan vaksin yang akan disuntikkan kepada masyarakat nantinya. Sebab, saat ini masih banyak masyarakat yang merasa khawatir terhadap keamanan dan efek samping vaksin yang belum sepenuhnya teruji.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu pemerintah juga harus memastikan keamanan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), lalu sertifikat aman dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), proses distribusi dan pelaksanaan teknis vaksinasi dengan menggiatkan sosialisasi yang lebih massif kepada masyarakat.
 
"Kuncinya herd immunity, kalau enggak didukung oleh program vaksinasi yang berhasil ya ini akan sama aja. Kalau herd immunity enggak terjadi, orang masih tahan belanja," kata Josua ketika dihubungi Medcom.id, Senin, 4 Januari 2021.
 
Josua mengatakan karena proses vaksinasi membutuhkan waktu dan juga vaksin yang telah tiba di Tanah Air jumlahnya masih khususnya untuk tenaga kesehatan, maka ia memperkirakan pemulihan ekonomi baru akan terlihat di semester kedua. Di semester pertama, menurut Josua, masyarakat masih memiliki kecenderungan untuk menahan belanja.
 
Dirinya memperkirakan dengan adanya proses pemulihan tersebut, maka sepanjang 2021 pertumbuhan ekonomi bisa di kisaran tiga persen, jauh lebih baik dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di 2020 yang menurut dirinya akan mencatatkan minus dua persen.
 
Titik baliknya, kata Josua, yakni pada kuartal kedua 2021 yang bakal tumbuh cukup tinggi. Josua mengatakan, kendati angka perkiraan kemungkinan masih di bawah target lima persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021, namun patut disyukuri karena Indonesia cenderung tidak lebih buruk dari negara lain.
 
"Kita jangan berekspektasi terlalu tinggi, karena proses vaksinasi butuh waktu," tutur dia.
 
Oleh karenanya, menurut dirinya di semester I ini, pemerintah masih perlu untuk memberikan perlindungan sosial bagi kelompok menengah ke bawah yang daya belinya masih rendah.
 
Josua menambahkan dengan pemulihan ekonomi akan berdampak positif pula bagi upaya penanggulangan defisit anggaran dan memperbaiki risiko utang. Seperti diketahui, di masa pandemi ini, penerimaan negara mengalami penurunan, dan di sisi lain belanja mengalami peningkatan. Sehingga untuk menutup kebutuhan tersebut defisit anggaran diperlebar dengan menambah utang.
 
Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh negara. Kuncinya, kata Josua, tinggal bagaimana mendorong efektivitas belanja.
 
"Kalau belanjanya produktif, ekonomi kita bisa lebih cepat pulih, didukung dengan pemulihan kesehatan, maka risiko utang dan juga defisit anggaran bisa kita tanggulangi dengan cepat," pungkas Josua.  
 
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif