Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor cabai kering asal Sulawesi Selatan ke pasar internasional baru, Pakistan (Foto:Dok.Kementan)
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor cabai kering asal Sulawesi Selatan ke pasar internasional baru, Pakistan (Foto:Dok.Kementan)

Mentan Syahrul Lepas Ekspor Cabai Kering Perdana ke Pakistan

Ekonomi berita kementan
M Studio • 22 November 2020 21:06
Makassar: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor cabai kering asal Sulawesi Selatan ke pasar internasional baru, Pakistan.
 
Ekspor cabai kering ke Pakistan merupakan ekspor perdana yang dilakukan PT Ransu Navigasi Nusantara dengan total ekspor 21 ton.
 
"Ini sesuatu yang mengembirakan karena pertanian tidak hanya tumbuh secara masif untuk kepentingan ketahanan pangan, tetapi juga ekspor kita terus berkembang. Bahkan, tidak hanya dalam bentuk kuantitasnya, tapi juga beragam komoditas seperti cabai bisa diekspor ke Pakistan untuk campuran pewarna tekstil mereka," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo, pada Minggu, 22 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Mentan Syahrul, pelepasan ini merupakan ekspor kedua setelah sebelumnya komoditas cabai kering menembus pasar Jepang sebanyak 23 ton yang dikirim bertahap.
 
"Ini menjadi prospek karena komoditas cabai bisa kita panen setiap saat. Bahkan, potensi kita juga cukup tinggi. Sekarang ini mereka punya kontrak 100 ton, tapi ke depan kami siap backup untuk ekspor di angka 1.000 ton," kata Mentan Syahrul.
 
Keberhasilan ekspor Indonesia menuju pasar baru di Asia bukan sesuatu yang mudah. Apalagi dalam perjalanannya eksportir selalu dihadapkan dengan perizinanan dan tingkat kepercayaan suatu negara.
 
Oleh karena itu Mentan ingin para pengusaha dan eksportir konsisten mengekspor, walau komoditas yang diekspor masih berupa komoditas biasa.
 
"Jangan diukur seberapa besar uangnya karena yang paling penting kita tidak istirahat langkahnya. Tidak ada yang berhenti dan jajaran pertanian tidak boleh istirahat. Kenapa? Karena pertanian itu tidak mengenal hari," katanya.
 
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil menambahkan yang terpenting dalam proses ekspor adalah memperhatikan hilirisasi produk pertanian menjadi salah satu fokus upaya peningkatan ekspor nasional.
 
"Produk pertanian segar yang tidak tahan lama atau bersifat perishable maka harus dilakukan hilirasasi yang memberi nilai tambah dan menjamin penerimaan produk di negara tujuan, karena tidak mudah rusak dan mutu terjaga," katanya.
 
Selain ekspor cabai kering, Mentan Syahrul juga melepas komoditas pertanian asal sub sektor perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura yaitu biji, kulit, cangkang, kelapa parut, karet, porang, cincau hitam, pisang, manggis hingga kencur dengan total 114,1 ton atau senilai Rp21,3 miliar dengan negara tujuan benua Asia dan Eropa.
 
Berdasarkan data lalu lintas ekspor pertanian di Karantina Makassar tercatat pertumbuhan negara tujuan ekspor meningkat sebesar 8 persen, yakni 133 negara tujuan ekspor pada 2019, dan 143 negara tujuan hingga Oktober 2020 atau bertambah 10 negara tujuan baru, yakni Thailand, India, dan Tiongkok.
 
"Selaku koordinator gugus tugas peningkatan ekspor pertanian, kami akan terus mendorong tumbuhnya pelaku usaha dengan membuka akses informasi peluang ekspor pertanian seluas-luasnya," ucap Jamil.
 
Sebagai informasi tambahan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Oktober 2002, nilai ekspor pertanian mengalami pertumbuhan positif hingga USD0,42 miliar atau tumbuh 1,26 persen (m-to-m) jika dibandingkan bulan sebelumnya. Dan jika dibandingkan tahun sebelumnya, kinerja ekspor pertanian mencatat pertumbuhan 23,80 (y-o-y).
 
(ROS)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif